Sejarah Imam Syafi’i Lengkap Dari Lahir Sampai Meninggal dunia

Artikel kali ini akan membahas tentang Sejarah Imam Syafi’i Lengkap Dari Lahir Sampai Meninggal dunia, Imam Imam Syafi’i merupakan pendiri Mazhab Syafi’i. Mazhab ini cukup banyak dianut di Negara Indonesia, bahkan bisa dibilang mayoritas di Indonesia.

Sejarah Imam Syafii Lengkap
Sejarah Imam Syafii Lengkap

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

Biografi Imam Syafi`i Lengkap

Tahun Dan Tempat Kelahiran Imam Syafi`i

Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda.

Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.

Garis Nasab Imam Syafi`i

Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.

Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).

Peranan Ibu dalam Mendidik Imam Syafi’i


Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran ibunda Imam Syafi’i dalam mendidik Imam Syafi’i di waktu kecil. Ibunda Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Meski saat itu Ibunda Imam Syafi’i telah ditinggal oleh suaminya, dan hidup sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah. 

Dalam sebuah riwayat, Ibunda Imam Syafi’i pernah berdo’a sebagai berikut ; “Ya Allah, Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu pengetahuan peninggalan Nabi-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu Ya Allah permudahkanlah urusannya. Berikanlah keselamatan kepadanya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu pengetahuan yang berguna, Aamin!”

Pertumbuhan Imam Syafi`i

Imam Asy-Syafi`i tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya.

Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.

Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut.

Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang

Kecerdasan Imam Syafi`i

Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:

1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.

Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.

Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu Agama

Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang miskin, hal tersebut tidak menjadikan beliau rendah diri apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu.

Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulamaulama dalam berbagai bidang ilmu. Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan. Sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. 

Ketika beliau membaca satu kitab beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum beliau hafal halaman yang kanan.

Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau.

Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk berfatwa di Masjid al-Haram. Ketika itu beliau bahkan baru mencapai usia 15 tahun.

Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits.

Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.

Guru Guru Imam Syafi`i

Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:

1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah
2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
3. Abbas kakeknya Imam Syafi`i
4. Sufyan bin Uyainah
5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.

Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:

1. Malik bin Anas
2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya

Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya:

1.Mutharrif bin Mazin
2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.

Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:

1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
2.Ismail bin Ulayah.
3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.

Murid Imam Syafi`i

Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

Hasil Karya Imam Syafi`i

Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu.

Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

Pujian Dari Para Ulama Untuk Imam Syafi’i

Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).

Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak.

Imam Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.

Qutaibah bin Sa`id berkata: “Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”

Imam Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”

Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”

Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”

Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”

Prinsip Aqidah Imam Syafi`i

Imam Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.

Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya.

Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya.

Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir.

Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,

“Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.

Prinsip Prinsip Dalam ilmu Fiqih

Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.

Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.

Sikap Imam Syafi`i Terhadap Ahlul Bid’ah

Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”

Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”

Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”

Pesan Imam Syafi`i

“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

Wafat Imam Syafi`i

Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda.

Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

Kata Kata Hikmah Imam Syafi`i

Berikut ini Kata Mutiara Hikmah dari Imam Syafi’i:

  • “Raihlah ilmu sebelum engakau memimpin. Jika telah berbalut kekuasaan, tertutup sudah jalanmu menuju perolehan ilmu.”
  • “Pengetahuan lebih utama daripada sholat sunnah.”
  • “Siapa yang menginginkan dunia hendaknya ia memiliki ilmunya dan siapa yang mendambakan akhirat hendaknya ia memiliki ilmunya.”
  • “Suksesnya mendulang pengetahuan bergantung pada keadaan yang serba kurang.”
  • “Hiasan para ulama adalah taufik, perhiasannya adalah akhlak luhur, dan keindahannya adalah jiwa yang mulia.”
  • “Seorang alim bukanlah yang ketika dihadapkan pada kebaikan dan keburukan lalu ia memilih kebaikan, akan tetapi yang ketika diperhadapkan pada dua buah keburukan ia sanggup memilih yang paling kecil resikonya.”
  • “Cukup seorang yang dikatakan pandai jika kepandaiannya membuatnya terampil memindai seluruh keburukannya.”

10 Tokoh Ilmuwan Muslim Yang Berhasil Mengubah Dunia

Artikel kali ini akan membahas beberapa Tokoh Ilmuwan Muslim Terkenal Di Dunia yang ilmunya dipakai Sampai Sekarang. Banyak ilmuwan yang kita kenal kebanyakan berasal dari Bangsa Eropa. Padahal islam pernah mengalami kejayaan pada era 780 – 1258 M.

Tokoh Ilmuwan Muslim Terkenal
Tokoh Ilmuwan Muslim Terkenal

Pada masa ini para ilmuwan muslim memberikan banyak kontribusi di bidang ilmu pengetahuan. Hasil karya ilmuwan muslim tersebut bahkan masih digunakan para ilmuwan hingga kini.

Di masa kejayaannya, wilayah ke khalifahan islam membentang luas dari Asia hingga Spanyol . Ilmuwan–ilmuwan muslim pada masa itu menghasilkan banyak penemuan–penemuan penting untuk keberlangsungan umat manusia,

Penemuannya antara lain di bidang kedokteran, matematika, fisika, astrologi, geometri, dan bidang lainnya. Mereka juga menerjemahkan karya-karya sastra dan ilmiah klasik (Yunani-Romawi).

Nama Tokoh Ilmuwan Muslim Yang Terkenal Di Dunia

Berikut Nama Tokoh ilmuwan muslim dan penemu muslim dengan hasil penemuannya yang luar biasa bagi umat manusia hingga kini:

1. Al-Khawarizmi Ilmuwan muslim Penemu al-Jabar (780 – 850)

Muhammad Bin Musa Al – Khawarizmi adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi asal Persia. Hampir sepanjang hidupnya ia bekerja sebagai dosen di sekolah kehormatan di Baghdad.

Ia berjasa karena menemukan konsep  aljabar dan algoritma. Buku pertamanya al-Jabar, membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Karenannya ia disebut sebagai Bapak Aljabar.

Al-Khwarizmi juga berperan penting memperkenalkan angka Arab yang kelak diadopsi sebagai angka standar yang dipakai di berbagai bahasa serta kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia barat pada abad ke 12.

2. Muhammad Bin Zakariya Al-Razi (864 – 930)

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Persia:أبوبكر الرازي) atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains yang berasal dari Iran. Beliau merupakan ilmuwan polymath, dokter, kimiawan, filsuf dan tokoh penting dalam sejarah kedokteran.

Sejak muda ia telah mempelajari ilmu di bidang filsafat, kimia, matematika, dan kesastraan. Ia pernah memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Ia juga telah banyak mengemukakan pendapatnya di bidang etika kedokteran. Ar-Razi diketahui sebagai ilmuwan serba bisa yang terkenal sepanjang sejarah.

 3. Ibnu Sina Bapak Pengobatan Modern (980 – 1037)

Ibnu Sina atau dikenal juga dengan nama Avcienna, merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia. Dia menghasilkan banyak karya tulis termasuk kitab As-Shifa (buku penyembuhan) berisi 20 volume dan buku The Canon of Medicine, yang menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hingga tahun 1600an.

Dia adalah ilmuwan pertama yang menggambarkan meningitis dan menyiapkan kontribusi untuk anatomi, ginekologi, dan kesehatan anak. Ia juga telah menemukan hubungan antara psikologi dan kesehatan.

Kepiawaian Ibnu Sina dalam mengobati orang sudah teruji, bahkan orang yang diobatinya bukanlah orang sembarangan, melainkan para raja.

Banyak raja yang meminta Ibnu Sina untuk mengobatinya di antaranya Ratu Sayyidah serta Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamazan, dan Alaud Dawla dari Isfahan, Karena kehebatannya, di dalam dunai Islam ia dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran.

Tidak hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya, tetapi ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil pada berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, di antaranya yang menonjol adalah ilmu astronomi.

Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya Al-Magest(Buku tentang astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan Euclides, meragukan pandangan Aristoteles tantang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan satuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu di dalam buku Asy-Syifa, ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tak berada pada satu Globe.

Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan dan pelangi.

Sementara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.

Hasil Karya Ibnu Sina antara lain:

  • • Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
  • • Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  • • Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’
  • • An Najat
  • • Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)
  • • Al-Isyarat (Petunjuk) 1 jilid
  • • AL-Majmu’ (Himpunan) 1 jilid
  • • Al-Biir wa a-l Itsm (Perbuatan baik dan dosa) 2 jilid
  • • Al-Arshad al-Kulliyyat (Petunjuk Lengkap) 1 jilid
  • • Al-Hashil wa Al-Mahshul (pokok-pokok) 2 jilid
  • • An-Najad (pembebasan) 3 jilid
  • • Al-Inshaf (keputusan) 20 jilid
  • • Al-Hidayat (petunjuk) 1 jilid
  • • Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
  • • Al-Musiqa. Buku tentang musik.
  • • Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  • • Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh. Buku filsafat.
  • • Danesh Nameh. Buku filsafat.
  • • Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.
  • • Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika secara lengkap.
  • • Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur
  • • Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.
  • • Al-Hudud. Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu filsafat. • Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil – dalil dan peringatan – peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.
  • • An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
  • • dan sebagainya

4. Abu Musa Jabir Bin Hayyan Sang Ahli Kimia (780 – 850)

Abu Musa Jabir Bin Hayyan atau dikenal dengan nama Geber di dunia Barat lahir di Kuffah, Irak. Ia, merupakan seorang polymath, kimiawan, ahli astronomi , astrologi, ahli bumi, ahli filsafat, apoteker serta dokter.

Kontribusi terbesarnya di bidang kimia sehingga ia dikenal dengan sebutan “The Father Of Modern Chemistry.” Keahliannya didapat dengan berguru pada Barmaki Vizier pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad.

Jabir Ibnu Hayyan mampu mengubah persepsi tentang berbagai tentang berbagai kejadian alam  yang pada masa itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang bisa dimengerti dan dipelajari oleh manusia.

5. Al-Farabi Sang Guru Filsafat (870 – 950)

Abu Nasir Muhammad bin al-Farabi, atau dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, merupakan ilmuwan dan filsuf islam yang berasal dari Farab, Kazakhtan. Al-Farabi dianggap sebagai filsuf islam pertama yang mengkaji filsafat Yunani klasik dengan sungguh – sungguh.

Ia memiliki kemampuan memahami, menjabarkan, serta memperbandingkan filsafat Yunani klasik Plato dan Aristoteles dengan filsafat islam.

Inilah yang membuat al-Farabi menjadi salah satu filsuf dunia dengan julukan terhormat “The Second Master” atau guru kedua setelah Aristoteles. Sejak kecil Al-Farabi memang dikenal sebagai anak yang cerdas serta memiliki kemampuan menguasai berbagai bahasa.

6. Abbas Bin Firnas: Ilmuwan Muslim Penerbang Pertama

Sejarah teknologi soal pesawat, masyarakat lebih banyak tahu bahwa manusia pertama yang berhasil terbang adalah Wright Bersaudara. Padahal, lebih dari 1000 tahun sebelum Wright Bersaudara menciptakan pesawat, Abbas bin Firnas sudah berhasil terbang di udara.

Abbas bin Firnas senang memperhatikan ciptaan Allah di langit. Ia memperhatikan betapa menakjubkannya kebesaran Allah yang menerbangkan burung-burung di udara.

Ini yang memotivasi Abbas bin Firnas untuk bisa memahami kebesaran Allah di langit.

Hasilnya, Abbas bin Firnas berhasil terbang selama lebih dari 10 menit menggunakan alat semacam gantole yang ia ciptakan sendiri.

Rekor terbang perdananya, juga jauh lebih lama dari penerbangan pertama Wright Bersaudara 1 milenium kemudian yakni hanya 12 detik.

Selain ahli dalam penerbangan, Abbas bin Firnas juga dikenal sebagai ahli sastra, musik, dan astronomi.

Di Cordoba, Spanyol, masih berdiri patung Abbas bin Firnas untuk menghormati karya dan dedikasi beliau terhadap dunia kedirgantaraan.

7. Ibnu Al Haytham: Tokoh Islam Penemu Optik

Pernahkah anak Anda bertanya bagaimanakah kita bisa melihat? Bagaimanakah Allah membuat mata kita bisa bekerja? Pertanyaan ini yang berhasil dijawab oleh Ibnu Al Haytham. Hasil penelitiannya ini yang menjadi dasar kerja kamera yang ada di ponsel Anda saat ini.

Karya besarnya, Al Manazir, diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi berjudul Book of Optics. Ibnu Al Haytham dikenal di Barat dengan nama Alhazen.

Ia sangat memengaruhi pola pikir ilmuwan-ilmuwan Barat seperti  Roger Bacon, Leonardo Da Vinci, dan Keppler.

Bahkan sampai sekarang isi bukunya masih sering dikutip oleh professor-profesor sebagai karya yang masih akurat.

Penemuannya adalah camera obscura. Cahaya yang menyinari lubang kecil di ruangan gelap akan memproyeksikan film negatif, seperti kamera dan film di bioskop. Camera sendiri berasal dari bahasa Arab “Qamara” yang berarti kamar.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris antara lain Light and on Twilight Phenomena Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Dilihat dari karyannya, Ibu Haitham telah cukup banyak menulis buku-buku. Di antara buku hasil karyanya adalah sebagai berikut.

  • Al`Jami` fi Usul al-Hisab yang mengandung terori-teori ilmu metematika dan matematika penganalisisan.
  • Kitab Al-Tahli wa al-Tarkib mengenai ilmu geometri.
  • Kitab Tahlil ai`Masa`il al-Adadiyah tentang Algebra.
  • Maqalah fi Istikhraj Simat al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau.
  • Maqalah Fima Tad`u Ilaih mengenai penggunaan geometri dan urusan hukum syarak.
  • Risalah fi Sina`at al-Syi`r mengenai teknik penulisan puisi.

8. Ibnu Battuta: Tokoh Muslim Sang Penjelajah Dunia

Ibnu Battuta hidup pada abad ke-14. Pada usianya yang baru 21 tahun, Ibnu Battuta berkelana selama 29 tahun.

Ibnu Battuta berhasil mengunjungi 44 negara, mulai dari  Afrika, Mesir, Suriah, Persia, Teluk Arab, Anatolia, Turkistan, Afghanistan, India, Maladewa, Srilanka, Bengal, Sumatera, Tiongkok, Sardinia, dan Spanyol.

Perjalanannya ini bertujuan untuk berdakwah. Bukan untuk menguasai dan menjajah daerah yang ia kunjungi. Ibnu Battuta menyebarkan kebenaran di tiap daerah yang ia kunjungi.

Dari petualangannya ini, Ibnu Battuta membuat buku berjudul Ar-Rihlah. Dengan membaca buku ini, kita bisa tahu sisi sejarah Islam yang sekarang sudah tertutupi.

9. Laksamana Cheng Ho: Sang Pelaut Pembawa Pesan Kedamaian

Laksamana Cheng Ho ini sangat terkenal di Indonesia. Ia datang ke Nusantara dan 37 negara lainnya membawa pesan perdamaian.

Berbeda dengan Vasco da Gama maupun Christopher Colombus yang datang untuk menjajah negeri yang didatangi. Justru negeri yang dikunjungi Cheng Ho menjadi lebih makmur karena pesan dakwah Islam yang menyebarkan kedamaian dan kebenaran.

Pemimpin kapal yang bernama asli Ma He ini (Ma diambil dari kata Muhammad) memiliki ukuran kapal yang sangat besar. Panjangnya lebih dari 130 meter dan dibuat tanpa besi.

Ukuran kapalnya 5 kali kapal Vasco da Gama. Bahkan ilmu engineering saat ini masih belum bisa membuat ulang kapal laut milik Cheng Ho.

Bahkan jika dibandingkan antara ukuran  kapal Cheng Ho dan Colombus, masih jauh lebih besar kapal milik Cheng Ho ini.

10. Al-Zahrawi: Seorang Ilmuwan Muslim Ahli Bedah

Al-Zahrawi adalah ilmuwan Muslim yang ahli ilmu bedah. Sumbangsihnya bagi dunia kedokteran modern khususnya ilmu bedah begitu besar. Salah satunya adalah Catgut, yang merupakan satu di antara puluhan penemuan Al-Zahrawi dalam ilmu kedokteran.

Catgut merupakan benang bedah temuan al-Zahrawi yang dibuat dari jaringan hewan, biasanya dari usus kambing dan sapi sehingga bisa diterima oleh tubuh manusia.

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim Khalaf bin al-Abbas al-Zahrawi, atau biasa dipanggil al-Zahrawi. Sedangkan di Barat, namanya dikenal dengan sebutan Abulbacis.

Beliau lahir di Madinat Zahra, sebelah barat Cordoba, Andalusia pada tahun 939 M. Cordoba merupakan pusat pengetahuan dan kebudayaan pada masa itu, sekaligus juga simbol peradaban Islam di Eropa dengan julukan sebagai permata dunia  abad ke-10.

Masa kecil dan pendidikannya tidak banyak terungkap, tetapi pada masa kehidupan al-Zahrawi, Cordoba adalah salah satu tempat faovorit bagi orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah.

Pada waktu itu, Cordoba memiliki sekitar 50 rumah sakit dan banyak universitas.

Berbeda dengan ilmuwan Muslim lainnya, beliau tidak banyak melakukan perjalanan intelektual, tetapi lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk merawat korban kecelakaan serta korban perang.

Ketika mendedikasikan dirinya dalam dunia kedokteran dan bedah, al-Zahrawi mengamati, memikirkan, mempraktikkan, dan memperlakukan setiap pasiennya dengan kemampuan terbaiknya dan kecerdasannya.

Sebagai seorang guru ilmu kedokteran, al-Zahrawi mengingatkan kepada para muridnya tentang pentingnya membangun hubungan baik dengan pasien.

Seorang dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya. Sedangkan dalam menjalankan praktiknya, al-Zahrawi menanambahkan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual.

Al-Zahrawi tercatat  telah menemukan 26 peralatan bedah yang semuanya belum pernah ada di masa-masa sebelumnya. Selain Catgut, beliau juga memperkenalkan pisau bedah, sendok bedah, retractor, pengait, specula, plaster dan masih banyak lagi hal lain yang terdapat dalam karyanya at-Tasrif li Man Ajiza ʽanit Ta’lif.

Al-Zahrawi adalah seorang dokter bedah dan juga ahli kimia. Dalam karyanya, beliau juga menulis secara lengkap mengenai kedokteran gigi, farmasi, dan ilmu bedah.

Dengan berbagai penjelasan dan tata cara perihal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan saat mengatasi bermacam-macam situasi medis.

Kitab At-Tasrif li Man Ajiza ʽanit Ta’lif adalah salah satu karyanya yang fenomenal dalam ilmu bedah yang berjumlah 30 jilid.

Kitab tersebut bisa dikatakan sebagai kitab suci kaum dokter sedunia yang masih dijadikan rujukan hingga saat ini, selain karya Ibnu Sina Qonun Fi at-Tib.

Dalam kitab tersebutlah, al-Zahrawi memaparkan kurang  lebih sekitar 200-an alat bedah termasuk 26 temuannya.

Beliau juga mengupas berbagai teknik operasi bedah, kemudian mengklasifikasikan sekitar 325 jenis penyakit beserta gejala dan  pengobatannya.

Al-Zahrawi adalah pemimpin dari seluruh ahli bedah dan maha guru dokter-dokter bedah sedunia. Beliau meninggal pada 1013 M, dan sempat mengabdi untuk Dinasti Umayyah II pada masa Khalifah Al-Hakam II, sebagai dokter khusus kerajaan.

Dunia mencatat penemuan dan karyanya sebagai acuan alat bedah pertama dalam sejarah medis, bahkan desain alat bedahnya hanya mengalami perubahan sedikit dalam ribuan tahun sejak dulu hingga sekarang.

Itulah artikel Tokoh Ilmuwan Islam Dan Penemuannya Yang berhasil mengubah dunia. Semoga Bermanfaat.

Cara Menasehati Orang Lain Dengan Baik Menurut Islam

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Cara Menasehati Orang Lain Dengan Baik Menurut Islam agar tidak menyinggung perasaan. Setiap umat muslim diwajibkan untuk saling mengingatkan dan menasehati untuk kebaikan.

Namun tidak jarang cara kita menasehati orang lain tidak sesuai adab bahkan akhirnya melukai perasaan orang lain. Bagaimana cara orang lain  mau mendengar nasehat kita kalau cara kita menyampaikannya saja tidak masuk ke hati?

Berikut ini adalah Cara Menasehati Orang Lain Dengan Baik yang sesuai dengan dalil-dalil dalam hadits:

1. Tidak Boleh Memaksakan Kehendak

Sesuatu yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan baik. Bahkan dalam islam sendiri dilarang menyebarkan agama dengan cara pemaksaan. Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan:

Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44).

2. Menasehati Orang lain Secara Diam-Diam

Jangan lah kalian menasehati, orang lain di depan orang banyak, karena bisa jadi aib orang tersebut terbongkar dan orang tersebut merasa dipermalukan. Nasehatilah orang secara diam-diam agar nasehat kalian terkesan tulus dan masuk ke hati orang yang dinasehati.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77).

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan,“Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44).

3. Pilih Waktu Yang Paling Tepat

Ketika seseorang dalam keadaan emosi, pastinya dinasehati akan lebih sulit. Pilihlah waktu yang tepat, saat orang tersebut sudah lebih tenang dan bisa mencerna ucapan kalian.

Ibnu Mas’ud pernah berkata:

Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih).

4. Pilih Kata-Kata Yang Baik Serta Lemah Lembut

Adab menasehati lainnya dengan pemilihan kata-kata yang baik dan nada yang lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman,

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

Dalam hadits lainyya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam…”(HR. Bukhari dan Muslim).

Hendaklah tindakan menegur dan menasehati dilakukan dengan bahasa yang lembut dan santun. Hindarilah bahasa yang kasar dan ketus. dalam hal ini allah swt berfirman:

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk’. (Annahl : 125)

Sikap santun ini bukan saja ditujukan kepada sesama muslim saja, namun juga kepada orang kafir. Kita dituntut bersikap santun dan sopan kepada mereka, lemah lembut dan tidak menyinggung perasaan. Ini bisa kita lihat tatkala Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berdakwah kepada fir’aun. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut“.(QS Toha: 44)

Redaksi dalam ayat ini menggunakan kata qaulan layyinan, maksudnya perkataan yang lembut dan sopan. Bukan perkataan kasar, keras dan bernada menyerang. Kata-kata yang lembut tersebut bertujuan agar Fir’aun ingat, sadar dan takut sehingga ia menerima ajakan nabi Musa dan nabi Harun.

Jika watak manusia diperlakukan dengan kasar, maka akan menimbulkan penolakan keras. Ia justru bertambah lari dari ajakan dakwah. Ini sesuai dengan firman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Ali imran:159)

Al-Qur’an menggambarkan perkataan kasar dengan kata adza dalam firmannya’ Perkataan yang baik dan pemberian maaf. lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan cara yang baik yaitu dengan ucapan yang sopan tanpa melukai perasaan si peminta. Perkataan yang baik tersebut lebih utama dari pada sedekah yang diiriingi dengan sesuatu yang menyakitkan. Maksudnya mengucapkan kata-kata kasar, mencaci, maki dan menghina si penerima.

Kita juga dilarang mengucapkan kata-kata ah ketika merespon perintah orang tua kita. Allah berfirman”:“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. Al-Isra’ 23

Secara bahasa kata ah ini nampak sepele. Tetapi secara psikologis, kata ah ini sangat menyakitkan hati kedua orang tua. Seolah sang anak membangkang dan meremehkan orang tuanya. Kita diminta oleh allah mengatakan qaulan karima artinya perkataan yang santun da lembut, baik dalam hal nada suara maupun dari kandungannya seperti dipahami dalam kata uff/ah.

Pepatah mengatakan lidah lebih tajam dari  pedang. Jika tubuh terluka dengan pedang, maka banyak obatnya. Tetapi manakala lidah melukai hati karena cacian, sindiran, kata-kata kasar, hinaan dan sejenisnya, maka sulit diobati. Bahkan memerlukan waktu yang lama untuk memulihkannya.

Banyak sekali kasus pertikaian di tengah komunitas masyarakat diakibatkan ejekan, saling hina dan ucapan menyinggung perasaan orang lain. Bahkan bisa terjadi peperangan.

Oleh karena itu rasul dalam sebuah hadits menyatakan salah satu ciri orang muslim adalah orang-orang di sekitarnya merasa aman dari kejahatan lidahnya dan tangannya.

Maksud dari hadits ini bahwa lidah seorang muslim selalu terjaga, tidak mengumbar cacian,hinaan, sindiran sehingga merusak kedamaian di tengah masyarakat.

Dalam hadits yang lain rasul menyatakan: “Keselamatan manusia digantungkan kepada keselamatan menjaga lidahnya“. Bahkan ada pepatah menyatakan mulutmu harimaumu. Maksudnya mulut bisa berubah menjadi harimau yang siap menerkam kapan saja. Ketika kalimat sudah keluar dari mulut, maka mustahil ditarik kembali. Tinggal menunggu akibatnya.

Karena itu seorag muslim harus sadar, bahwa lidah ini dipertanggung jawabkan nanti di hadapan allah swt.

pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan“. (An nur: 24)

Rasul dalam sabdanya menyatakan: barangsiapa yang beriman kepada allah dan  hari akhir, maka hendaknya berkata baik atau lebih baik diam.

Terkadang lidah kita keceplosan menyindir atau mencela seseorang agar bisa mendapatkan canda tawa dari teman-teman kita. Atau untuk menghangatkan suasana. Tetapi tanpa kita sadari, hal tersebut merupakan perilaku yang buruk dan akhlak tercela.

Ketiga ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa Allah swt sangat memperhatikan ucapan yang keluar dari lidah sehingga perintah dengan ucapan yang baik dan lembut diungkapkan dalam redaksi yang indah dengan variasi yang berbeda.

Pertama dengan qaulan layyinan kepada fir’an yaitu berkata lemah lembut dan santun. Bukan perkataan yag menyerang, menantang, mengajak permusuhan.

Kedua kepada kedua orang tua dengan kata qaulan kariima perkataan yang sopan, lembut sebagai lawan dari bentakan yang dilarang kepada orang tua

Ketiga qaulan ma’rufaa kepada si peminta sedekah yang berarti perkataan yang santun dan terhindar dari melukai perasaan si pengemis seperti mengatakan kepadanya ‘kamu miskin, kamu malas, mencari duit susah kenapa kamu dengan enak meminta saja”.

Dengan ketiga ayat dalam berbagai variasi surat yang berbeda menunjukka n kepada kita betapa allah menyuruh kita agar santun, lembut dan berkata dengan perkataan yang baik. Terhindar dari mencaci maki, membentak, menyindir dengan kata-kata tajam.

Jadi kandungan kata yang layyin,kariim dan ma’ruf bisa berarti secara da hal yaitu dari nada suara yang tinggi. Ini bisa dipahami dari ayat yang melarang umat islam meninggikan suara di atas suara nabi/raf’ul ashwaat.

Dan bisa dipahami dari kata nahr  yang berarti bentakan. Kata nahar seakar kata dengan nahar sungai yang mengalir deras. Bisa disamaka dengan nahr membentak karena dengan entengnya ucapan mengalir dengan deras melalui bentakan.

Kata nahr ini sudah melampau ucapan sewajarnya. Bahkan dalam komunitas arab yang memang nadanya sudah keras atau seperti orang medan. Jelas kita bisa membedakan ucapan orang medan, antara ucapan lantang biasa dengan ucapan lantang dengan nada bentakan.

Karena nada bentakan memiliki frekuensi yang lebih tinggi dari suara manusia yang biasa ia ucapkan, meskipun itu orang arab ataupun orang medan. Kata ma’ruf disitu jelas sesuai dengan semua adat. Sehingga ketika keluar dari adat kebiasaan ucapan masing-masing komunitas karena sangat tinggi nadanya, maka sudah bukan ma’ruf lagi.

Demikian juga nada suara ini bisa dipahami dari kata adzaa. Para ahli tafsir menyatakan bahwa adzaa maksndya kata-kata nyaring, keras, ketus, lantang yang menyakitkan si pengemis.

Unsur kedua,Larangan perkataan dalam islam, juga mengandung unsur isi dan kandungannya. Karena bisa jadi seseorang menyatakan dengan nada halus tetapi isinya kasar karena mengandung unsur sindiran. Contoh: pak besok jangan ke sini lagi karena mencari uang susah. Kalimat ini bisa diucapkan dengan nada rendah. Meskipun rendah tetapi isinya menyakitkan hati.

Dalam pelajaran gaya bahasa dinamakan sarkasme yaitu sindiran. Contoh orang yang mengucapkan terimakasih dengan maksud menghina.

Perkataan ini jika kita cermati jelas mengandung unsur penghinaan satu dengan yang lain yang dilarang dalam alqur’an.

Jadi ketiga lafadz qaulan layyina, kariima dan ma’ruufa harus mencakup kedua unsur tadi baik secara kuantitas berupa frekuensi nada yang jauh dari bentakan dan nada tinggi. Dan yang kedua isinya terhindar dari unsur penghinaan, pelecehan atau sindiran.

5. Nasehati Dengan Penuh Kasih Sayang

Tidaklah sempurna iman seorang muslim sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

Menasehati sesama muslim (selain ulil amri) berarti adalah menunjuki berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 35).

Menasehati sesama muslim tentu dengan perkataan yang baik, ketulusan, dan penuh kasih sayang sebagaimana ia ingin diperlakukan, tanpa hinaan dan merendahkan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

6. Imbangilah teguran itu dengan menyertakan prestasi dan kebaikan yang pernah diperbuatnya.

Terkadang dalam masyarakat kita jarang sekali memberikan penghargaan dan simpati kepada saudaranya. Jika saudaranya mendapat prestasi atau memliki kelebihan, maka didiamkan seribu bahasa. bahkan iri hati dan membenci. Ini adalah sifat hasud.

Namun ketika terdapat kejelekan, maka segera diungkapkan. Bahkan bagi pendengki, ia sengaja mencari-cari kesalahan orag lain atau tajassus. padahal tajassus dilarang oleh Allah” walaa tajassasuuu”.

Dalam peristiwa pemasangan kembali hajar aswad, rasulullah mengajak para pemimpin bani untuk sama-sama mengangkat hajar aswad. Sikap beliau ini merupakan penghargaan kepada mereka. akhirnya mereka senang karena merasa dilibatkan.

Ketika terjadi peristiwa fathu makkah, abu sofya sang pemimpin quraish telah kalah dan tidak berdaya. alam kondisi seperti ini, maka rasul tidak menghina abu sofyan. justru menghargainya. dengan menyatakan ”barangsiapa yang masuk ke dalam rumah abu soyan, maka ia aman.

Dalam setiap pertempuran, bendera ansar dan muhajirin selalu disertakan. Ja’far bin Abu Thalib yang memegang panji kaum muhajirin, sementara Sa’d bin Rabi’ memegang panji kaum Anshar.

Rasulullah pernah melakukan seperti ini ketika para wanita muslimah ketakutan dengan kedatangan umar. para wanita itu mengangap umar sangat tegas. maka rasulullah memuji umar: “wahai Umar, jika engkau lewat, maka syetan akan menyingkir dari hadapanmu“.

Banyak prestasi dan kelebihan saudara kita yang terkadang kita menutup mata. oleh karena itu sampaikan penghargaan itu secara tulus dan ikut mendukung. Karena muslim dengan sesama muslim bagaikan satu tubuh. ketika saudaranya memiliki kelebihan, maka ia juga harus merasa bergembira dan menyatakan apresiasinya.

Kalimat yang bisa kita sampaikan, misalnya ”Tindakan kamu sudah sangat bagus. namun alangkah lebih bagus lagi jika begini”. Dengan bahasa seperti itu, maka si penerima nasehat tidak akan terluka hatinya, bahkan menerima dengan lapang dada dan berterimakasih atas nasehat saudaranya.

Syarat Makanan Halal Dan Baik Menurut Islam Sesuai Dengan Al Quran Dan Hadist

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Syarat Makanan Halal Dan Baik Menurut Islam Sesuai Dengan Al Quran Dan Hadist, Makanan merupakan kebutuhan manusia untuk dapat bertahan hidup. Dalam islam, semua hal sudah diatur termasuk soal makanan. Umat muslim diwajibkan memakan makanan yang halal dan baik.

Syarat Makanan Halal Dan Baik

Namun, ada di beberapa kondisi tertentu seorang muslim tidak dapat mengetahui kehalalan makanan yang ia konsumsi. Padahal, situasinya mengharuskan ia memakan makanan tersebut karena tidak mempunyai pilihan.

Sebagai seorang muslim yang baik dan taat, tentunya kita akan memilih makanan yang sudah terjamin kehalalannya. Namun, hal tersebut mungkin akan sulit berlaku pada umat muslim yang hidup atau sedang berkunjung ke negara yang di mana penduduknya didominasi oleh non muslim.

Ada hadits yang membahas tentang makanan halal dan bergizi. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا ، فَقَالَ : سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ . قَالَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا راوية الحديث : وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab : “Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah”. Aisyah menjawab, “Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.” (Riwayat Imam Al-Bukhari, Hadits no. 2057)

Pada Saat ini, makanan halal mungkin dapat lebih mudah ditemui pada kemasan produk makanan. Namun, hal ini tidak berlaku pada makanan yang disajikan di rumah makan atau makanan di pinggir jalan.

Makanan dengan label halal telah  melalui serangkaian proses dan persetujuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Meski begitu, tidak sedikit juga pedagang nakal yang mengatakan bahwa makanan yang dijualnya halal karena tidak mengandung babi.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diperoleh di pasar kaum muslimin, asalnya halal. Begitu pula dengan hasil sembelihan mereka karena asalnya namanya muslim sudah paham keharusan membaca ‘bismillah’ saat menyembelih.

Oleh karenanya, Ibnu ‘Abdil Abrr berkata bahwa sembelihan seorang muslim boleh dimakan dan kita berprasangka baik bahwa ia membaca bismillah ketika menyembelih. Karena kita hendaklah berprasangka yang baik pada setiap muslim sampai jika ada sesuatu yang menyelisihi hal itu. Demikian disebutkan dalam Fath Al-Baari, 9: 786.

Pada Saat Anda berada di dalam negara yang bermayoritas non muslim, sebaiknya berusahalah terlebih dahulu mencari makanan yang sudah pasti halal. Meski hal ini dirasa cukup sulit dan butuh perjuangan yang tidak mudah, setidaknya Anda sudah berusaha. Atau Anda bisa memasaknya sendiri jika memungkinkan.

Mengucapkan “bismillahirrohmanirrohim” sebelum makan juga sangat penting dan selalu perlu diingat. Mengucapkan bismillah insya Allah akan membuat Allah melindungi kita.

Namun, jika sudah terlanjur makan dan baru mengetahui bahwa makanan tersebut haram setelah selesai, maka perhatikan hadits berikut,

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Untuk itu, sebelum makan ingatlah untuk selalu mengucapkan “bismillahirrohmanirrohim”. Mengucapkan bismillah insyaAllah akan membuat Allah akan melindungi kita.

Pastinya kita butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Sebagai seorang muslim kita wajib memakan makanan yang halal dan thoyyib. Tapi terkadang ada kondisi dimana kita tidak tahu percis kehalalan makanan atau minuman yang kita konsumsi.

Kriteria Makanan Halal Menurut Islam

Kehalalan suatu makanan bukan hanya dari bahan makanan tersebut, bisa jadi bahan–bahannya halal tapi alat memasaknya terkontaminasi dengan bahan haram, atau bahan makanannya masuk ke kategori halal tapi cara pemotongan atau penyajiannya haram.

Sebagai pelanggan di restoran misalnya, kita cuma tahu menu yang disajikan tanpa tahu bagaimana proses pembuatannya ataupun cara pemotongan hewan di restoran tersebut.

Lantas bagaimana untuk menyikapi hal ini?

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا ، فَقَالَ : سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ . قَالَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا راوية الحديث : وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab : “Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah”. Aisyah menjawab, “Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.” (Riwayat Imam Al-Bukhari, Hadits no. 2057)

Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan bahwa “segala sesuatu yang diperoleh di pasar kaum muslimin, asalnya halal”. Begitu pula dengan hasil sembelihan mereka karena asalnya namanya muslim sudah paham keharusan membaca ‘bismillah’ saat menyembelih.

Karena itu, Ibnu ‘Abdil Abrr berkata bahwa “sembelihan seorang muslim boleh dimakan dan kita berprasangka baik bahwa ia membaca bismillah ketika menyembelih. Karena kita hendaklah berprasangka yang baik pada setiap muslim sampai jika ada sesuatu yang menyelisihi hal itu”. Demikian disebutkan dalam Fath Al-Baari, 9: 786.

Sesuai hadits di atas, kalau penjual daging atau makanan tersebut seorang muslim hendaknya kita berbaik sangka. Untuk lebih meyakinkan Sobat Duha bisa bertanya dulu sebelum membelinya, misalnya beli bakso di pinggir jalan atau gerobak lewat depan rumah, “Pak dagingnya halal gak?” kalau mereka bilang halal, insyallah benar halal.

Untuk makanan atau minuman dalam kemasan lebih mudah mengenalinya, Sobat Duha hanya perlu mengecek logo halal yang tertera. Produk yang sudah berlabel halal artinya sudah melewati serangkaian proses pengecekan dan persetujuan dari MUI ( Majelis Ulama Indonesia ).

Selapar apapun kondisi anda alangkah baiknya mencari makanan yang sudah terbukti halal, meskipun perjuangan untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Yang penting bukan hanya perkara kenyang saja tapi keberkahan dari makanan tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah. ”

( al-Baqarah / 2 : 172 )

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Al-Baqarah: 173 )

Semua makanan dan minuman yang ada dimuka bumi yang bermanfaat bagi pertumbuhan badan dan jiwa manusia menurut hukum asalnya adalah halal (boleh) dimakan, kecuali apabila ada larangan dari syarat Al-Quran dan Hadist atau karena madharatnya (bahaya). “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal baik dari apa yang terdapat di bumi.” (Q.S. Al- Baqarah 168).

Dari ayat tersebut jelas bahwa makanan yang dimakan oleh seseorang muslim hendaknya memenuhi dua syarat, yaitu :

a. Halal, artinya diperbolehkan untuk dimakan dan tidak dilarang oleh hukum syara`.
b. Baik, artinya makanan itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.

Dengan demikian “halal” itu ditinjau dari ilmu islam, sedangkan “baik” ditinjau dari ilmu kesehatan.

Dalam islam halal itu meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:

a. Halal karena zatnya, Apabila makanan itu tidak dilarang oleh hukum syara. Tidak ada ayat dalam al quran maupun hadits nabi yang melarang tentang makanan tesebut seperti nasi, telur, susu, dn lain lain.

b. Halal cara memperolehnya artinya sesuatu yang halal itu harus diperbolehkan dengan cara yang halal pula. sesuatu yang halal tetapi cara memperolehnya bertentangan dengan hukum syara maka menjadi haram.

Bukan haram karena zatnya tetapi haram karena cara memperolehnya, seperti telur yg diperoleh dengan cara mencuri, makanan yg di beli dengan uang hasil merampok, dan lain lain.

c. Halal karena proses atau cara pengolahannya, artinya selain sesuatu yg halal harus diperoleh dengan cara yg halal juga. Maka cara atau proses pengolahannya pun harus benar menurut hukum syara`.

Sesuatu yg halal tetapi cara pengolahannya tidak benar maka menjadi haram. Haram karena proses atau cara pengolahannyaseperti daging : daging hewan yang halal disembelih dengan caara yg salah tidak menyebut asma alloh, hewan halal yang disembelih untuk berhala, dan lain lain..

Jenis Jenis Makanan Dan Minuman Halal

Jenis Makanan Halal

Dari pengertian halal diatas bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud makanan halal, yaitu semua makanan yg tidak diharamkan oleh Alloh SWT dan Rosulnya, semua makanan yg baik baik, tidak kotor dan tidak menjijikkan, semua makanan yg tidak memberi madharat (kerugian), tidak membahayakan kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, tidak merusak moral serta tidak merusak akidah. Contoh makanan yg halal, yaitu buah buahan, sayur sayuran, telur, ikan, daging sapi, daging ayam, mentega, dan lain lain.

Jenis Minuman Yang Halal

Minuman yang halal pada garis besarnya dapat dibagikan menjadi empat yaitu sebagai berikut :

  1. Semua jenis air atau cairan yg tidak membahayakan bagi kehidupan manusia baik dari segi jasmani, akal, jika maupun akidah.
  2. Air atau cairan yg tidak memabukkan walaupun sebelumnya telah memabukkan, seperti arak yg telah berubah menjadi cuka.
  3. Air atau cairan itu bukan berupa benda najis atau benda suci yg terkena najis (muta najis).
  4. Air atau cairan yg suci itu di dapatkan dengan cara cara yg halal yg tidak bertentangan dengan ajran agama islam.

Manfaat Makanan Dan Minuman Halal

Ternyta makanan dan minuman halal yang kita makan banyak sekali manfaatnya bagi tubuh kita. Badan kita menjadi sehat karena makanan halal sudah dijamin oleh Alloh pasti baik untuk kesehatan tubuh kita. Manusia dapat mencapai ridho Alloh Swt. Dalam hidup karena dapat memilih jenis makanan dan minuman yg baik sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Manusia dapat memilih Akhlak karimah karena makanan dan minuman yg halal dapat mempengaruhi watak dan perangai yang terpuji, seperti sabar, tenang, qonaah, dan InsyaaAlloh kita akan terhindar dari Akhlak Akhlak yg tercela.

Makanan Dan Minuman Haram

Haram berarti larangan (dilarang oleh agama, makanan dan minuman yg haram, yaitu makanan atau minuman yg tidak boleh dimakan oleh orang muslim karena dilarang loleh syara(ajaran islam).

Semua makanan yang dilarang oleh syara pasti ada bahayanya dan meninggalkan haram pasti ada manfaatnya.

Jenis jenis makanan dan minuman yang haram,

semua makanan yg disebutkan didalam al quran surat al-maidah ayat 3 yaitu sebagai berikut :’ diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yg disembelih atas nama selain Allah, yg tercekik, yg terpukul, yg jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yg sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala”.

Berikut ini contoh makanan haram :
  • Bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang.
  • Darah, kecuali hati dan limpa.
  • Daging babi.
  • Daging hewan halal yg disembelih atas nama selain Allah Swt.
  • Binatang yang mati tercekik.
  • Binatang yg mati karena terpukul.
  • Binatang yang mati karena terjatuh.
  • Binatang yang mati karena di tanduk binatang lain.
  • Binatang yg mati karena diterkam bitang buas.
  • Binatang yg disembelih untuk berhala.
    Jenis Minuman Yang Haram
    Adapun jenis minuman yang haram pada garis besarnya dibagi menjadi tiga bagian :
  • Semua jenis minuman yang memabukkan atau apabila diminum menimbulkan mudharat dan merusak badan, akal, jiwa, moral, dan akidah, seperti arak (mhamer) wisky dan lainnya.
  • Minuman dari benda najis atau suci terkena najis.
  • Minuman yang didapatkan dengan cara yg tidak halal atau yg bertentangan dengan ajaran agama islam.

Berikut ini akibat buruk dari mengkonsumsi makanan dan minuman haram. Apabila manusia memakan dan meminum yang haram, maka akan menimbulkan akibat buruk terhadap pribadinya maupun terhadap orang lain, masyarakat bahkan terhadap lingkungannya.

Akibat buruk yang ditimbulkan apabila kita mengkonsumsi makanan dan minuman haram yaitu :
  1. Amal ibadahnya tidak akan diterima dan doa nya tidak akan dikabulkan oleh Allah Swt.
  2. Merusak jiwa terutama minuman keras yang mengandung alkohol, seperti : kecerdasan menurun, cenderung lupa dan melakukan hal hal yg negative, senang menyendiri dan melamun, semangat kerja menurun.
  3. Membahayakan kesehatan (kususnya khamr), seperti, wajah pucat mata merah, mulut menjadi kering, berat badan menurun, kepala pusing dan telinga mendenging, panca indra menjadi lemah, terutama mata dan telinga.

Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mendengar Adzan Sebelum Sholat Berjamaah

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Hal Apa Saja Yang Harus Dilakukan Pada Saat Mendengar Adzan Sebelum Sholat Berjamaah Dimasjid.

Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mendengar Adzan

Adzan merupakan syiar agama paling agung untuk mengabarkan kepada seluruh umat muslim akan datangnya waktu shalat wajib. Lima kali dalam sehari kita mendengarkan adzan berkumandang.

Biasanya pada saat adzan berkumandang, apa yang anda lakukan? Diam atau acuh tak acuh? Sebenarnya dalam islam ada adab–adab yang berlaku saat kita mendengarkan adzan,

Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mendengar Adzan Sebelum Sholat Berjamaah, antara lain:

1. Diam Dan Menghentikan Aktivitas Kita Sejenak

Diriwayatkan dalam sebuah hadist : “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika adzan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.”

Sejatinya kita memang harus menghormati suara adzan itu sendiri karena banyak fadilahnya (keuntungan) di dalamnya.

Jika kita berada di dalam suatu keadaan misalnya meeting, diskusi atau pidato, kita bisa minta secara sopan untuk berdiam sejenak hingga adzan selesai lalu melanjutkan pembahasan.

2. Mengulangi Ucapan Muadzin Sambil Bershalawat

Diriwayatkan dalam sebuah hadist Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 384).

3. Berdoa Untuk Memohon Ampunan

Diriwayatkan dalam sebuah hadist Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar adzan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa 

(Yang artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386).

4. Memanjatkan Doa Sesuai Keinginan Kita

Salah satu waktu mustajab terkabulnya doa ialah setelah adzan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada dua do’a yang tidak ditolak -atau sedikit sekali ditolak- yaitu doa setelah adzan dan doa ketika perang saat sebagian mereka merapat dengan sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 2540).

Diriwayatkan dalam sebuah hadist Dari Abdullan bin Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan.”

Rasulullah SAW bersabda, “Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang adzan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2:172).

Jadi setelah adzan jangan langsung terburu-buru beraktivitas, Luangkan waktu sebentar untuk berdoa  sebanyak–banyaknya sesuai keinginanmu.

5. Meminta Wasilah Serta Keutamaan Bagi Rasulullah

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ،حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’

( Yang artinya; Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), salat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya), maka dia akan mendapatkan syafaatku kelak.” (HR.Bukhari no. 614).

6. Menyegerakan Shalat

Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya berkata, dari Al Auza’i, dari Musa bin Sulaiman, dari Al Qosim bin Mukhoymiroh mengenai firman Allah Ta’ala,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ
Dan datanglah orang-orang setelah mereka yang menyia-nyiakan shalat.” (QS. Maryam: 59)
Al Qosim berkata bahwa yang dimaksud ayat ini adalah “Mereka yang menyia-nyiakan waktu shalat. Sedangkan jika sampai meninggalkan shalat, maka kafir.

7. Tidak Keluar Dari Masjid Atau Mushala Setelah Adzan

Hendaknya usai adzan berkumandang, muslim membaca doa setelah adzan dan melaksanakan sholat sunnah qabliyah atau tahiyatul masjid.

Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mendengar Adzan Ketika Berada Ditoilet

Suara adzan ini tidak boleh kita sikapi dengan acuh, sebab menjawab kumandang adzan merupakan sebuah kesunnahan bagi setiap muslim yang mendengarnya.

Apakah kesunnahan ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang mendengar adzan?

Mengingat terkadang seseorang mendapati suara adzan saat berada di tempat yang tidak layak untuk mengucapkan kalima-kalimat dzikir yang terkandung dalam adzan, seperti pada saat buang hajat di toilet misalnya.

Lantas apakah tetap dianjurkan bagi mereka yang sedang buang hajat untuk menjawab suara adzan yang ia dengarkan?

Kesunnahan menjawab adzan rupanya tidak berlaku bagi orang yang sedang buang hajat, sebab buang hajat dianggap sebagai keadaan yang tidak layak untuk mengucapkan segala macam dzikir dan pembicaraan, sehingga dihukumi makruh.

Kemakruhan bagi orang yang sedang buang hajat tidak hanya berlaku pada menjawab adzan, tapi juga pada semua anjuran yang terkandung nilai dzikir di dalamnya.

Seperti menjawab salam, mengucapkan hamdalah bagi orang yang bersin, dan kesunnahan lainnya. Hal ini ditegaskan dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah:

ـ (باب النهي عن الذكر والكلام على الخلاء) يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام، إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطسا، ولا يرد السلام، ولا يجيب المؤذن، ويكون المسلم مقصرا لا يستحق جوابا، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه، ولا يحرم، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع

Bab tentang larangan berdzikir dan berbicara saat berada di jamban (toilet). Berdzikir dan berbicara dimakruhkan ketika sedang buang hajat, baik buang hajat dilakukan di tempat terbuka atau di ruangan. Kemakruhan tersebut berlaku pada semua jenis dzikir dan pembicaraan kecuali perkataan yang bersifat darurat. Bahkan sebagian ashab (ulama Syafi’iyah) berpandangan bahwa ketika (di jamban) bersin maka tidak dianjurkan mengucapkan hamdalah dan tidak pula dianjurkan mengucapkan tasymith (ucapan Yarhamukallâh), tidak dianjurkan menjawab adzan ketika adzan sedang berkumandang dan orang yang mengucapkan salam dengan lalai tidak berhak untuk dijawab, dan mengucapkan ucapan pada semua keadaan di atas adalah dihukumi makruh tanzih, tidak sampai dihukumi haram. Ketika seseorang bersin lalu ia mengucapkan hamdalah dalam hatinya tanpa menggerakkan lisannya maka hal ini tidak dipermasalahkan, hal tersebut juga dapat dilakukan ketika dalam keadaan bersetubuh.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyah, juz I, hal. 51)

Terkhusus pada permasalahan menjawab salam, Rasulullah pernah mengalami hal ini. Salah satu sahabatnya mengucapkan salam pada Rasulullah saat beliau sedang buang hajat, dan salam ini tidak beliau jawab. Peristiwa ini seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits:

وعن المهاجر بن قنفذ رضي الله عنه قال : ” أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يبول، فسلمت عليه، فلم يرد حتى توضأ، ثم اعتذر إلي وقال : إني كرهت أن أذكر الله تعالى إلا على طهر رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه

Diriwayatkan dari Sahabat Muhajir bin Qanfadz RA, bahwa beliau berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad Saw saat beliau sedang buang hajat, lalu aku mengucapkan salam pada beliau namun salam itu tidak dijawabnya sampai beliau melaksanakan wudhu, lalu beliau menjelaskan padaku, ‘Aku tidak senang menyebutkan nama Allah kecuali aku dalam keadaan suci’.” (HR Abu Daud)

Memperhatikan referensi dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah di atas, tersirat suatu penjelasan bahwa bagi orang yang bersin, tetap disunnahkan untuk mengucapkan hamdalah dalam hati.

Namun apakah hal ini juga berlaku orang yang menjawab adzan, sehingga bagi orang yang sedang buang hajat tetap disunnahkan menjawab adzan dalam hati tanpa perlu dilafalkan dalam lisan?

Dalam kitab Faid al-Qadir dijelaskan bahwa anjuran berdzikir dalam hati berlaku pada setiap keadaan apa pun, sehingga juga berlaku bagi orang yang sedang buang hajat.

Berdasarkan ketentuan ini, maka bagi orang yang buang hajat tetap dianjurkan menjawab adzan dalam hatinya tanpa perlu melafalkan dalam lisannya. Berikut penjelasan dalam kitab Faid al-Qadir:

فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال لكن يستثنى من الذكر القرآن حال الجنابة بقصده فإنه حرام ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال

Melanggengkan dzikir pada Allah sangat dianjurkan pada setiap keadaan, akan tetapi dikecualikan dalam berdzikir yakni membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub dengan menyengaja membaca Al-Qur’an, sesungguhnya hal tersebut diharamkan. Dikecualikan pula dari keumuman anjuran berdzikir yakni bagi orang yang sedang bersetubuh dan sedang buang hajat, maka bagi dua orang tersebut dimakruhkan mengucapkan dzikir secara lisan, sedangkan dzikir dalam hati tetap disunnahkan dalam keadaan apapun.” (Al-Manawi, Faid al-Qadir, juz 5, hal. 424)

Sedangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin dijelaskan bahwa bagi orang yang sedang buang hajat dianjurkan untuk menjawab seluruh kalimat adzan setelah selesai melaksanakan aktifitas buang hajat. Berikut referensi yang menegaskan hal ini:

وتكره لمجامع وقاضي حاجة، بل يجيبان بعد الفراغ

Makruh menjawab adzan bagi orang yang sedang bersetubuh dan buang hajat, akan tetapi dua orang ini tetap dianjurkan menjawab adzan ketika sudah selesai bersetubuh dan buang hajat.”(Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 279)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjawab adzan secara lisan bagi orang yang sedang buang hajat adalah hal yang dimakruhkan, namun ia tetap dianjurkan untuk menjawab adzan dalam hati dan menjawab semua adzan secara lisan ketika telah selesai melakukan buang hajat.

Hal Yang Harus Dilakukan Saat Mendengar Adzan Beberapa Masjid Secara Bersamaan

Hadits dalam masalah menjawab adzan menyebutkan secara mutlak, “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” Tidak ada pembatasan muadzin yang pertama atau muadzin yang kesekian, atau muadzin di masjid yang dekat dengan rumah kalian.

Berarti menjawab adzan ini berlaku untuk semua adzan yang didengar. Misalnya muadzin di satu masjid adzan, kita menjawabnya sampai selesai adzan tersebut. Lalu terdengar adzan lagi dari masjid yang lain, kita jawab lagi sampai selesai.

Demikian seterusnya. Akan tetapi bila adzan-adzan tersebut saling bersusulan (bersahut-sahutan) maka kita meneruskan untuk menjawab adzan yang pertama kali kita jawab sebelum terdengar adzan yang lain.

Namun bila ternyata adzan yang belakangan lebih keras dan lebih jelas sehingga adzan yang pertama kita dengar terkadang tertutupi (tidak terdengar), maka kita mengikuti adzan yang kedua. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/198-199)

Cara Menghormati Orang Tua Yang Masih Hidup Dan Sudah Meninggal

Artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana Cara Menghormati Orang Tua Yang Masih Hidup Dan maupun yang Sudah Meninggal dunia

cara menghormati orang tua

Bagi yang belum memiliki anak pasti belum memahami betapa sulitnya untuk membesarkan dan mendidik anak dari kecil hingga menjadi dewasa. Diperlukan kesabaran ekstra, pengorbanan, serta doa yang tidak henti–hentinya dipanjatkan.

Ini mengapa berbakti kepada kedua orang tua menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim.

Bahkan perintah ini disebutkan berkali-kali dalam Al Quran juga dianjurkan  Rasulullah SAW

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Alloh.’” (HR. Al Bukhori no. 5970).

Begitu agungnya amalan berbakti pada orang tua bahkan di atas jihad fi sabilillah, padahal jihad sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar pula. Sedangkan bahaya durhaka kepada orang tua diakitkan dengan perbuatan syirik.

Dari hadits Abi Bakrah, Rasulullah bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?” para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Al Bukhori).

Adapun Cara Menghormati Orang Tua Yang Masih Hidup dalam islam diantaranya:

1. Mendoakan Kedua Orang Tua

Sesuai dengan hadist nabi Muhammad SAW Doa anak sholeh pahalanya akan tetap mengalir meskipun orang tuanya telah meninggal.

“Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya).

Adapun doa mohon ampunan untuk kedua orang tua kita:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Artinya : “Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.”

2. Bertutur Kata Baik Dan Lemah Lembut Kepada Orang Tua

Jangan lah kamu melukai perasaan kedua orang tuamu dengan perkataan yang kasar, mencaci maki, membentak dan lain sebagainya. Bahkan mengatakan kata “ah/cis” saja dilarang dalam Al Quran.

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, ‘Cis (ah)’ bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku ? lalu kedua orang tua itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, “Celaka kamu, berimanlah ! Sesungguhnya janji Allah adalah benar” Lalu dia berkata, “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu” [Al-Ahqaaf : 17]

3. Memberikan Nafkah Dan Memberikan Kehidupan Yang Layak Kepada Orang Tua

Tidak ada yang bisa menggantikan atau membayar pengorbanan kedua orang tua. Meski begitu menjadi kewajiban bagi setiap anak untuk memberikan nafkah yang halal kepada orang tuanya.

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui” [Al-Baqarah :  215].

4. Merawat Orang Tua pada Saat Usia Senja

Sungguh tega hati seorang anak yang menelantarkan orang tuanya yang sudah tua renta. Meskipun merawat orang tua memang tidaklah mudah tapi setiap usaha yang dilakukan percayalah akan mendatangkan pahala yang berlipat.

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2551)

Cara Menghormati Orang Tua Yang Telah meninggal Dunia dalam islam :

Doa mukmin yang hidup kepada mukmin yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai doa yang mustajab. Doa anak soleh kepada orang tuanya yang beriman, yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai paket pahala yang tetap mengalir.

Ilmu yang diajarkan oleh seorang guru muslim kepada masyarakat, akan menjadi paket pahala yang terus mengalir, selama ilmu ini diamalkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya).

Bahkan ikatan iman ini tetap Allah abadikan hingga hari kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah kumpulkan kembali mereka bersama keluarganya di hari kiamat.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. At-Thur: 21).

Anda yang beriman, orang tua beriman, anak cucu beriman, berbahagialah, karena insyaaAllah akan Allah kumpulkan kembali di surga.

Cara untuk Berbakti kepada Orang Tua Yang telah meninggal

Setelah orang tua meninggal, ada banyak cara bagi si anak untuk tetap bisa berbakti kepada orang tuanya. Mereka tetap bisa memberikan kebaikan bagi orang tuanya yang telah meninggal, berupa aliran pahala. Dengan syarat, selama mereka memiliki ikatan iman.

Lebih dari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada salah seorang sahabat untuk melakukan beberapa amal, agar mereka tetap bisa berbakti kepada orang tuanya.

Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orang tuaku setelah mereka meninggal?’ Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِيفَاءٌ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka meninggal, memuliakan rekan mereka, dan menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka.” (HR. Ahmad 16059, Abu Daud 5142, Ibn Majah 3664, dishahihkan oleh al-Hakim 7260 dan disetujui adz-Dzahabi).

Makna ‘menshalatkan mereka’ memiliki beberapa kemungkinan,

  • Menshalatkan jenazah mereka
  • Mendoakan mereka dengan doa rahmat.
  • Mendo’akan kedua orang tuanya dengan khidmat dan ikhlas.
  • Memohonkan ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya.
  • Melaksanakan semua pesan, wasiat dan menjunjung tinggi nama baik kedua orang tua.
  • Menyambung tali silahturahim kepada mereka yang sering dikunjungi oleh kedua orang tuanya.
  • Menghormat para sahabat kedua orang tanya saat masih hidup.

Demikian keterangan as-Sindi yang dikutip Syuaib al-Arnauth dalam Tahqiq beliau untuk Musnad Imam Ahmad (25/458).

Diantara doa yang Allah perintahkan dalam Al-Quran adalah doa memohonkan ampunan untuk kedua orang tua kita,

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Berdoalah, Ya Allah, berilah rahmat kepada mereka (kedua orang tua), sebagaimana mereka merawatku ketika kecil.” (QS. Al-Isra: 24)

Hikmah menghormati orang tua (birrul walidain)

1. Termasuk amalan yang lebih dicintai oleh Allah

Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang mana yang lebih dicintai oleh Allah? Beliau menjawab:
Shahih Muslim 123

123 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ أَوِ الْعَمَلِ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ *

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari al Hasan Ubaidullah dari Abu Amru asy Syaibani dari Abdillah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Amalan-amalan yang paling utama adalah shalat pada waktunya dan berbakti kepada orang tua.”

2. Akan dihormati oleh anak-anaknya

Artinya: Bersabda Rasulullah SAW: berbaktilah kepada bapak-bapak kamu, niscaya anak-anakmu berbuat baik kepadamu, dan peliharalah kehormatanmu dirimu,niscaya ister-isteri kamu memelihara kehormatan dirinya (H.R. Thabrani dengan sanad hasan).

3. Mendapat ridho dari Allah karena diridhoi orang tua.

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rosulullah Saw. bersabda: “Keridhoan Allah itu di dalam keridhoan orang tua dan kemarahan Allah itu di dalam kemarahan kedua orang tua.” (HR. al-Tirmidzi)

Di dalam hadits ini bukan saja terdapat himbauan untuk berbakti kepada kedua orang tua, tetapi juga seruan untuk mendapatkan kerelaan mereka berdua. Kedudukan orang tua nomor dua setelah Allah swt. Allah tidak rela dengan kita, kecuali setelah orang tua kita ridho dengan kita, yaitu dengan cara mengabdi kepada beiiau berdua.

Adakah kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita itu, karena beliaulah yang menjadikan sebab kita berada di dunia ini dan yang mendidik, mengasuh serta memenuhi segala keperluan kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh mendurhakainya walupun dengan ucapan “ah”.