Syarat Makanan Halal Dan Baik Menurut Islam Sesuai Dengan Al Quran Dan Hadist

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Syarat Makanan Halal Dan Baik Menurut Islam Sesuai Dengan Al Quran Dan Hadist, Makanan merupakan kebutuhan manusia untuk dapat bertahan hidup. Dalam islam, semua hal sudah diatur termasuk soal makanan. Umat muslim diwajibkan memakan makanan yang halal dan baik.

Syarat Makanan Halal Dan Baik

Namun, ada di beberapa kondisi tertentu seorang muslim tidak dapat mengetahui kehalalan makanan yang ia konsumsi. Padahal, situasinya mengharuskan ia memakan makanan tersebut karena tidak mempunyai pilihan.

Sebagai seorang muslim yang baik dan taat, tentunya kita akan memilih makanan yang sudah terjamin kehalalannya. Namun, hal tersebut mungkin akan sulit berlaku pada umat muslim yang hidup atau sedang berkunjung ke negara yang di mana penduduknya didominasi oleh non muslim.

Ada hadits yang membahas tentang makanan halal dan bergizi. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا ، فَقَالَ : سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ . قَالَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا راوية الحديث : وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab : “Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah”. Aisyah menjawab, “Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.” (Riwayat Imam Al-Bukhari, Hadits no. 2057)

Pada Saat ini, makanan halal mungkin dapat lebih mudah ditemui pada kemasan produk makanan. Namun, hal ini tidak berlaku pada makanan yang disajikan di rumah makan atau makanan di pinggir jalan.

Makanan dengan label halal telah  melalui serangkaian proses dan persetujuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Meski begitu, tidak sedikit juga pedagang nakal yang mengatakan bahwa makanan yang dijualnya halal karena tidak mengandung babi.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diperoleh di pasar kaum muslimin, asalnya halal. Begitu pula dengan hasil sembelihan mereka karena asalnya namanya muslim sudah paham keharusan membaca ‘bismillah’ saat menyembelih.

Oleh karenanya, Ibnu ‘Abdil Abrr berkata bahwa sembelihan seorang muslim boleh dimakan dan kita berprasangka baik bahwa ia membaca bismillah ketika menyembelih. Karena kita hendaklah berprasangka yang baik pada setiap muslim sampai jika ada sesuatu yang menyelisihi hal itu. Demikian disebutkan dalam Fath Al-Baari, 9: 786.

Pada Saat Anda berada di dalam negara yang bermayoritas non muslim, sebaiknya berusahalah terlebih dahulu mencari makanan yang sudah pasti halal. Meski hal ini dirasa cukup sulit dan butuh perjuangan yang tidak mudah, setidaknya Anda sudah berusaha. Atau Anda bisa memasaknya sendiri jika memungkinkan.

Mengucapkan “bismillahirrohmanirrohim” sebelum makan juga sangat penting dan selalu perlu diingat. Mengucapkan bismillah insya Allah akan membuat Allah melindungi kita.

Namun, jika sudah terlanjur makan dan baru mengetahui bahwa makanan tersebut haram setelah selesai, maka perhatikan hadits berikut,

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله تجاوز لي عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Untuk itu, sebelum makan ingatlah untuk selalu mengucapkan “bismillahirrohmanirrohim”. Mengucapkan bismillah insyaAllah akan membuat Allah akan melindungi kita.

Pastinya kita butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Sebagai seorang muslim kita wajib memakan makanan yang halal dan thoyyib. Tapi terkadang ada kondisi dimana kita tidak tahu percis kehalalan makanan atau minuman yang kita konsumsi.

Kriteria Makanan Halal Menurut Islam

Kehalalan suatu makanan bukan hanya dari bahan makanan tersebut, bisa jadi bahan–bahannya halal tapi alat memasaknya terkontaminasi dengan bahan haram, atau bahan makanannya masuk ke kategori halal tapi cara pemotongan atau penyajiannya haram.

Sebagai pelanggan di restoran misalnya, kita cuma tahu menu yang disajikan tanpa tahu bagaimana proses pembuatannya ataupun cara pemotongan hewan di restoran tersebut.

Lantas bagaimana untuk menyikapi hal ini?

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا ، فَقَالَ : سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ . قَالَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا راوية الحديث : وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab : “Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah”. Aisyah menjawab, “Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.” (Riwayat Imam Al-Bukhari, Hadits no. 2057)

Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan bahwa “segala sesuatu yang diperoleh di pasar kaum muslimin, asalnya halal”. Begitu pula dengan hasil sembelihan mereka karena asalnya namanya muslim sudah paham keharusan membaca ‘bismillah’ saat menyembelih.

Karena itu, Ibnu ‘Abdil Abrr berkata bahwa “sembelihan seorang muslim boleh dimakan dan kita berprasangka baik bahwa ia membaca bismillah ketika menyembelih. Karena kita hendaklah berprasangka yang baik pada setiap muslim sampai jika ada sesuatu yang menyelisihi hal itu”. Demikian disebutkan dalam Fath Al-Baari, 9: 786.

Sesuai hadits di atas, kalau penjual daging atau makanan tersebut seorang muslim hendaknya kita berbaik sangka. Untuk lebih meyakinkan Sobat Duha bisa bertanya dulu sebelum membelinya, misalnya beli bakso di pinggir jalan atau gerobak lewat depan rumah, “Pak dagingnya halal gak?” kalau mereka bilang halal, insyallah benar halal.

Untuk makanan atau minuman dalam kemasan lebih mudah mengenalinya, Sobat Duha hanya perlu mengecek logo halal yang tertera. Produk yang sudah berlabel halal artinya sudah melewati serangkaian proses pengecekan dan persetujuan dari MUI ( Majelis Ulama Indonesia ).

Selapar apapun kondisi anda alangkah baiknya mencari makanan yang sudah terbukti halal, meskipun perjuangan untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Yang penting bukan hanya perkara kenyang saja tapi keberkahan dari makanan tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah. ”

( al-Baqarah / 2 : 172 )

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Al-Baqarah: 173 )

Semua makanan dan minuman yang ada dimuka bumi yang bermanfaat bagi pertumbuhan badan dan jiwa manusia menurut hukum asalnya adalah halal (boleh) dimakan, kecuali apabila ada larangan dari syarat Al-Quran dan Hadist atau karena madharatnya (bahaya). “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal baik dari apa yang terdapat di bumi.” (Q.S. Al- Baqarah 168).

Dari ayat tersebut jelas bahwa makanan yang dimakan oleh seseorang muslim hendaknya memenuhi dua syarat, yaitu :

a. Halal, artinya diperbolehkan untuk dimakan dan tidak dilarang oleh hukum syara`.
b. Baik, artinya makanan itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.

Dengan demikian “halal” itu ditinjau dari ilmu islam, sedangkan “baik” ditinjau dari ilmu kesehatan.

Dalam islam halal itu meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:

a. Halal karena zatnya, Apabila makanan itu tidak dilarang oleh hukum syara. Tidak ada ayat dalam al quran maupun hadits nabi yang melarang tentang makanan tesebut seperti nasi, telur, susu, dn lain lain.

b. Halal cara memperolehnya artinya sesuatu yang halal itu harus diperbolehkan dengan cara yang halal pula. sesuatu yang halal tetapi cara memperolehnya bertentangan dengan hukum syara maka menjadi haram.

Bukan haram karena zatnya tetapi haram karena cara memperolehnya, seperti telur yg diperoleh dengan cara mencuri, makanan yg di beli dengan uang hasil merampok, dan lain lain.

c. Halal karena proses atau cara pengolahannya, artinya selain sesuatu yg halal harus diperoleh dengan cara yg halal juga. Maka cara atau proses pengolahannya pun harus benar menurut hukum syara`.

Sesuatu yg halal tetapi cara pengolahannya tidak benar maka menjadi haram. Haram karena proses atau cara pengolahannyaseperti daging : daging hewan yang halal disembelih dengan caara yg salah tidak menyebut asma alloh, hewan halal yang disembelih untuk berhala, dan lain lain..

Jenis Jenis Makanan Dan Minuman Halal

Jenis Makanan Halal

Dari pengertian halal diatas bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud makanan halal, yaitu semua makanan yg tidak diharamkan oleh Alloh SWT dan Rosulnya, semua makanan yg baik baik, tidak kotor dan tidak menjijikkan, semua makanan yg tidak memberi madharat (kerugian), tidak membahayakan kesehatan jasmani dan tidak merusak akal, tidak merusak moral serta tidak merusak akidah. Contoh makanan yg halal, yaitu buah buahan, sayur sayuran, telur, ikan, daging sapi, daging ayam, mentega, dan lain lain.

Jenis Minuman Yang Halal

Minuman yang halal pada garis besarnya dapat dibagikan menjadi empat yaitu sebagai berikut :

  1. Semua jenis air atau cairan yg tidak membahayakan bagi kehidupan manusia baik dari segi jasmani, akal, jika maupun akidah.
  2. Air atau cairan yg tidak memabukkan walaupun sebelumnya telah memabukkan, seperti arak yg telah berubah menjadi cuka.
  3. Air atau cairan itu bukan berupa benda najis atau benda suci yg terkena najis (muta najis).
  4. Air atau cairan yg suci itu di dapatkan dengan cara cara yg halal yg tidak bertentangan dengan ajran agama islam.

Manfaat Makanan Dan Minuman Halal

Ternyta makanan dan minuman halal yang kita makan banyak sekali manfaatnya bagi tubuh kita. Badan kita menjadi sehat karena makanan halal sudah dijamin oleh Alloh pasti baik untuk kesehatan tubuh kita. Manusia dapat mencapai ridho Alloh Swt. Dalam hidup karena dapat memilih jenis makanan dan minuman yg baik sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Manusia dapat memilih Akhlak karimah karena makanan dan minuman yg halal dapat mempengaruhi watak dan perangai yang terpuji, seperti sabar, tenang, qonaah, dan InsyaaAlloh kita akan terhindar dari Akhlak Akhlak yg tercela.

Makanan Dan Minuman Haram

Haram berarti larangan (dilarang oleh agama, makanan dan minuman yg haram, yaitu makanan atau minuman yg tidak boleh dimakan oleh orang muslim karena dilarang loleh syara(ajaran islam).

Semua makanan yang dilarang oleh syara pasti ada bahayanya dan meninggalkan haram pasti ada manfaatnya.

Jenis jenis makanan dan minuman yang haram,

semua makanan yg disebutkan didalam al quran surat al-maidah ayat 3 yaitu sebagai berikut :’ diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yg disembelih atas nama selain Allah, yg tercekik, yg terpukul, yg jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yg sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala”.

Berikut ini contoh makanan haram :
  • Bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang.
  • Darah, kecuali hati dan limpa.
  • Daging babi.
  • Daging hewan halal yg disembelih atas nama selain Allah Swt.
  • Binatang yang mati tercekik.
  • Binatang yg mati karena terpukul.
  • Binatang yang mati karena terjatuh.
  • Binatang yang mati karena di tanduk binatang lain.
  • Binatang yg mati karena diterkam bitang buas.
  • Binatang yg disembelih untuk berhala.
    Jenis Minuman Yang Haram
    Adapun jenis minuman yang haram pada garis besarnya dibagi menjadi tiga bagian :
  • Semua jenis minuman yang memabukkan atau apabila diminum menimbulkan mudharat dan merusak badan, akal, jiwa, moral, dan akidah, seperti arak (mhamer) wisky dan lainnya.
  • Minuman dari benda najis atau suci terkena najis.
  • Minuman yang didapatkan dengan cara yg tidak halal atau yg bertentangan dengan ajaran agama islam.

Berikut ini akibat buruk dari mengkonsumsi makanan dan minuman haram. Apabila manusia memakan dan meminum yang haram, maka akan menimbulkan akibat buruk terhadap pribadinya maupun terhadap orang lain, masyarakat bahkan terhadap lingkungannya.

Akibat buruk yang ditimbulkan apabila kita mengkonsumsi makanan dan minuman haram yaitu :
  1. Amal ibadahnya tidak akan diterima dan doa nya tidak akan dikabulkan oleh Allah Swt.
  2. Merusak jiwa terutama minuman keras yang mengandung alkohol, seperti : kecerdasan menurun, cenderung lupa dan melakukan hal hal yg negative, senang menyendiri dan melamun, semangat kerja menurun.
  3. Membahayakan kesehatan (kususnya khamr), seperti, wajah pucat mata merah, mulut menjadi kering, berat badan menurun, kepala pusing dan telinga mendenging, panca indra menjadi lemah, terutama mata dan telinga.

Macam Macam Najis Dan Dasar Hukumnya Yang Perlu Diketahui

Artikel kali ini kita akan membahas tentang Macam Macam Najis Dan Dasar Hukumnya. Najis menurut ilmu fiqih yaitu segala sesuatu yang dianggap kotor yang dapat mengakibatkan tidak sahnya ibadah terutama shalat.

macam macam najis
macam macam najis

Contoh – contoh najis antara lain: darah, bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan & belalang), nanah, anjing, babi, minuman keras, segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia & hewan.

Macam Macam Najis dan Cara mensucikannya:

1. Najis Mukhaffafah

Najis mukhaffafah merupakan najis ringan seperti air kencing bayi laki – kali yang belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibunya. Najis ini bisa disucikan dengan dipercikan air ke tempat yang terkena najis hingga bersih.

2. Najis Mutawassithah

Najis mutawassithah merupakan najis sedang  seperti segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur (kotoran) manusia juga hewan, seperti air kencing, kotoran buang air besar, nanah, darah, bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan & belalang).

Najis mutawassithah juga dibagi menjadi dua:
  1. Najis ainiyah merupakan najis yang berwujud dan memiliki warna, aroma & rasa
  2. Najis hukmiyah merupakan najis yang tidak berwarna, aroma & rasa. Seperti bekas kencing, terkena khamr yang sudah kering, dan lain sebagainya.

Cara menyucikan najis mutawassitah dengan dihilangkan dulu najis ianiyah-nya. Setelah hilang warna, bau, dan rasa dari najis tersebut baru kemudian disiram dengan air dan disucikan kembali.

Sebagai contoh anak yang kencing di mushala, pertama dibersihkan dulu kecingnya dilap sampai kering (sampai tidak ada warna dan baunya yang tersisa) baru kemudian disiramkan dengan air.

3. Najis Mughallazhah

Najis mughallazhah merupakan najis berat seperti najis anjing, babi dan keturunannya.

Cara menyucikan najis ini dengan dibasuh dengan air sebanyak tujuh kali basuhan dimana diantaranya dicampur dengan debu.

Misalnya Sobat Duha terkena jilatan anjing, maka oleskan dengan debu di tempat yang terkena najis, lalu diberikan air, campur keduanya lalu dibasuh.

Hukum Tentang Najis Yang Wajib diketahui

1. Tidak Berdosa Jika kita Terkena Najis

Tidak berdosa bagi seorang muslim jika bersentuhan najis, baik disengaja maupun tidak. Asalkan ketika ingin beribadah, seperti shalat dibersihkan dulu badan, pakaian hingga tempat shalatnya.

Ini mengapa profesi sebagai tukang sampah, penyedot WC, pekerja rumah potong hewan adalah profesi yang halal meskipun setiap hari harus bersentuhan dengan kotoran.

2. Haram untuk Dikonsumsi

Meski tidak berdosa untuk bersentuhan dengan najis, tetapi diharamkan bagi seorang muslim mengkonsumsi benda – benda yang tergolong najis meskipun untuk alasan pengobatan. Menurut firman Allah SWT ;

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. Al-A’raf : 157).

3. Haram untuk Diperjual-belikan

Ulama berpendapat hukum memperjual-belikan benda najis ialah haram. Berdasarkan hadits berikut;

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا

Dari Abu Daud radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,”Allah SWT telah melaknat orang-orang Yahudi, lantaran telah diharamkan lemak hewan, namun mereka memperjual-belikannya dan memakan hasilnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Haram hukumnya jika seorang muslim jual – beli daging babi, bangkai (kecuali kulit bangkai yang sudah disamak), dan jual beli anjing (kecuali anjing pemburu yang dimanfaatkan untuk berburu).

4. Haram Untuk Dibawa ke masjid pada saat akan sholat

Tidak hanya umat islam, agama lainnya pun tentu memiliki aturan untuk tidak membawa benda – benda kotor ke dalam tempat beribadah.

Adapun dalil tentang haramnya memasukan benda – benda najis ke masjid tercatat dalam hadits berikut :

عَنْ عَائِشَةَ t قَالَتْ إِنَّ رَسُولَ اللهِ أَمَرَ بِالمَسَاجِدِ أَنْ تُبْنىَ فيِ الدُّوْر وَأَنْ تُطَهَّر وَتُطَيَّب

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata, ”Rasulullah SAW memerintahkan untuk membangun masjid di tengah-tengah perumahan penduduk, serta memerintahkan untuk membersihkannya dan mensucikannya. “ (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmizy)

Sebelum masuk ke dalam masjid hendaknya kita mengecek dahulu apakah ada najis yang menempel baik di baju maupun sepatu kita.

Baiknya letakan sepatu atau sandal kita di luar masjid, dan ambil wudhu untuk memastikan tidak ada najis yang terbawa sampai ke dalam masjid.

Hukum Ragu Terkena Najis Atau Tidak

Jika seseorang buang air kecil dengan berdiri, lalu ia meyakini bahwa sebagian air kencingnya mengenai pakaiannya, maka ia wajib mencuci titik yang terkena najis,

Tidak cukup hanya dipercikkan atau diusap pada tempat najisnya tersebut, yang diwajibkan adalah mencucinya dengan mengguyurkan air di atasnya.

Jika seseorang merasa ragu-ragu apakah pakaiannya terkena kencing atau tidak, maka ia tidak wajib mencucinya;

Karena hukum asalnya adalah pakaiannya suci sampai ia merasa yakin betul bahwa pakaiannya terkena najis.

Ulama Lajnah Daimah lil Ifta’ berkata: “Jika anda merasa yakin bahwa ada tetesan (air kencing) maka anda wajib beristinja’ dan berberwudu setiap kali mau shalat dan mencuci titik yang terkena najis tersebut. Adapun jika masih merasa ragu-ragu maka tidak perlu mencucinya, dan hendaknya berpaling dari yang meragukan sehingga tidak terkena was-was”. (Fatawa Lajnah Daimah lil Ifta’: 5/106)

Jika seseorang bertanya tentang hal yang bermanfaat baginya dalam urusan agamanya, maka hal ini bukanlah aib dan juga bukan was-was bahkan hal itu merupakan upaya mencapai kesempurnaan dan berusaha mendapatkan kebaikan.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk setiap kebaikan karena Dia-lah Yang Maha Kuasa akan hal tersebut.

Hukum Menyentuh Najis Yang Sudah Kering

Kalau Menyentuh najis yang sama-sama kering; najisnya kering, kulitnya juga kering maka itu tidak membuatnya jadi najis.

Imam As Suyuthi Rahimahullah berkata:

قال القمولي في الجواهر: النجس إذا لاقي شيئاً طاهراً وهما جافان لا ينجسه

Berkata Al Qamuliy dalam Al Jawahir: “Najis jika bertemu sesuatu yang suci dan keduanya kering maka tidak menajiskannya.” (Al Asybah wan Nazhaair, 1/432)

Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah mengatakan:

لا يضر لمس النجاسة اليابسة بالبدن والثوب اليابس…؛ لأن النجاسة إنما تتعدى مع رطوبتها

Tidak apa-apa sentuhan najis yang sudah kering dengan badan, pakaian, karena kenajisan itu terus berlangsung selama dia basah. (Fatawa Islamiyyah, 1/194)

Jadi, kalau menyentuh sama-sama kering, tidak perlu dicuci lagi. Tapi, kalau ingin tetap dicuci juga tentu lebih bagus, untuk menghilangkan waswas. Kalau najisnya masih basah, barulah dicuci sampai bersih.

Macam Macam Najis Yang Dimaafkan

Ada sebagian bentuk najis yang sulit dihilangkan dan dihindari. Oleh karena itu, di dalam Islam yang juga mengusung konsep kemudahan dan tidak memberatkan maka ulama ahli fiqh mengeluarkan fatwanya tentang macam-macam najis yang dimaafkan.

Di antaranya adalah yang telah disebutkan oleh Dr. Mustafa al Khan, Dr Mustafa al Bagha dan Ali Assyibiji di dalam kitab Alfiqh Almanhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i sebagaimana berikut:

1.Percikan air kencing yang telah menyebar dan tidak dapat dilihat dengan penglihatan yang normal yang mengenai baju atau badan. Baik berupa najis mughalladhah (sebab jilatan anjing), najis mukhaffafah (air kencingnya anak laki-laki yang belum umur dua tahun) atau najis mutawassithah.

2. Darah, nanah, darah nyamuk dan kotoran lalat yang sedikit dan hal-hal tersebut bukan disebabkan perbuatan manusia dan kesengajaan manusia.

3. Darah dan nanahnya luka meskipun banyak yang bersumber dari tubuhnya sendiri, keluarnya bukan karena ulahnya dan kesengajaannya serta mengalirnya tidak berpindah dari tempat asalnya.

4. Kotorannya binatang yang mengenai biji-bijian ketika digiling, kotoran binatang yang mengenai susu ketika diperas, selama kotoran tersebut tidak banyak dan tidak mengubah sifat susu tersebut.

5. Kotoran ikan di dalam air selama air tersebut tidak berubah, dan kotoran-kotoran burung di tempat-tempat yang mereka berlalu lalang di atasnya, seperti di tanah haram Makkah, Madinah dan tempat-tempat umum. Hal tersebut dimaafkan melebihi batas keumuman dan kesulitan untuk menghindarinya.

6. Darah yang mengenai pakaian tukang jagal (saat menyembelih hewan), selama darah tersebut tidak banyak.

7. Darah yang terdapat di atas daging

8. Mulutnya anak kecil yang terkena najis sebab muntah ketika menyusu dengan ibunya (gumoh).

9. Najis dari kotoran jalanan yang mengenai manusia

10. Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir atau memang tidak memiliki darah sama sekali jika jatuh ke dalam benda cair, seperti lalat, lebah, semut, dan dengan syarat jatuh dengan sendirinya serta benda cair tersebut tidak berubah sebab kejatuhan hewan tersebut.

Hal ini sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “jika lalat jatuh di tempat salah satu dari kalian, maka celupkanlah semuanya, kemudian buanglah, karena sesungguhnya salah satu dari sayapnya terdapat obat dan di sayap yang lainnya terdapat penyakit.

Pengambilan dalil dari hadis tersebut adalah bahwa seandainya lalat itu najis, maka Nabi Saw. tidak akan memerintahkan untuk mencelupkan.

Dan setiap bangkai yang tidak mengalir darahnya dianalogikan dengan lalat tersebut.

Sekian saja pembahasan Macam Macam Najis Dan Dasar Hukumnya Yang Perlu Diketahui. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Makan Dengan Tangan Kanan Sesuai Dengan Ajaran Islam

kenapa makan harus pakai tangan kanan

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Keutamaan Makan Dengan Tangan Kanan Sesuai Dengan Ajaran Islam, ISLAM merupakan agama yang diturunkan untuk semua umat Rahmatan Lil’alamin,agama yang penuh cinta kasih terutama untuk pemeluknya,

Makan Minum Dengan Tangan Kanan Menurut Islam

Didalam islam bukan hanya agama yang mengajarkan tentang percaya kepada Tuhan, cara beribadah atau cara bersyukur, tapi juga mengajarkan banyak hal termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi dengan orang lain, cara bersikap hingga urusan sehari-hari seperti makan juga diatur dengan jelas.

Demikian juga untuk urusan makan dan minum serta cara dan adab menyantapnya. Seluruh Muslim didunia dianjurkan untuk makan menggunakan tangan kanan karena tangan ini dianggap lebih baik dan lebih mulia jika dibandingkan tangan kiri.

Nabi Muhammad SAW berkata “Hai anak muda, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kanan serta ambillah makanan yang ada didekatmu” HR Al- Bukhari dan Muslim.

Tidak hanya untuk makan, Rasulullah juga menganjurkan untuk menggunakan tangan kanan ketika hendak melakukan pekerjaan yang bersih.

Sementara tangan kiri hanya digunakan untuk melakukan pekerjaan kotor, misalnya membersihkan anggota tubuh usai ke toilet.

Sesuai dengan HR Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah melarang umatnya makan dan minum menggunakan tangan kiri. “Janganlah kamu makan dan minum menggunakan tangan kiri karena yang makan dan minum menggunakan tangan kiri hanyalah setan.” Hal ini harus dilakukan bagi setiap orang yang memiliki tangan kanan dalam keadaan sehat dan sempurna.

Lain ceritanya jika seseorang mengalami cedera, luka, sakit atau cacat di tangan kanannya, maka hal ini dimaklumkan.

Adab Makan Dan Minum Dalam Islam

Di antara yang masih banyak dilakukan adalah makan dan minum menggunakan tangan kiri bahkan sambil berdiri. Padahal telah jelas perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam untuk makan dan minum dengan tangan kanan dan itu bukan sekedar keutamaan.
Allah berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS An-Nur: 63)

Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mengingatkan orang-orang yang menentang perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang itu merupakan jalan, manhaj, cara dan sunnahnya.

Barangsiapa menyelisihinya secara lahir dan batin berarti dia berada di mulut jurang kebinasaan dan berada dalam bahaya bahwa hatinya akan ditimpa kekufuran dan kemunafikan serta ancaman adzab Allah ‘Azza wa Jalla. Na’udzubillah.

Bacaan Hadits Menggunakan Tangan Kanan:

Dari Abu Muslim, ada juga yang mengatakan, Abu Iyas Salamah bin Amr bin al-Akwa radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang makan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan menggunakan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” “Aku tidak bisa,” jawab orang itu.

Beliau pun mengatakan, “Kamu tidak akan pernah bisa.Tidak ada yang menghalanginya menggunakan tangan kanan kecuali kesombongan. Akhirnya orang itu tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. (HR Muslim)

Syaikh Salim bin Ied al-Hilali menjelaskan kandungan hadits tersebut sebagai berikut:

• Kewajiban makan dengan menggunakan tangan kanan. Makan dengan tangan kiri tanpa alasan yang dibenarkan adalah haram.
• Segala sesuatu yang mulia harus dilakukan dengan tangan kanan. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyenangi bagian kanan dalam menjalankan kesibukannya.
• Menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam merupakan perbuatan dosa. Oleh karena itu Rasulullah mendoakan keburukan bagi orang tersebut. Sebab penolakannya itu disebabkan oleh kesombongan dan penentangannya.
• Pemberian nasihat kepada orang yang makan dan minum berlaku bagi laki-laki maupun perempuan dan juga anak-anak.
• Diperbolehkan memberi nasihat kepada seseorang di hadapan umum, jika mengandung kebaikan bagi semua orang.
• Diperbolehkan mendoakan keburukan bagi orang yang melakukan perbuatan haram karena penentangan dengan kesombongan dan terus menerus melakukannya.
• Kesombongan dan keengganan menjalankan hukum-hukum syariat menyebabkan datangnya siksaan bagi pelakunya.
• Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan nabi sekaligus hamba-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dengan mengabulkan doanya.

Hadist lain yang memerintahkan untuk makan dengan tangan kanan di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan seorang anak kecil tatkala makan, “Wahai anak kecil bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu!” (HR Bukhari 5376 dan Muslim 2022) Dari sini tampak betapa dianjurkan mendidik anak-anak sejak kecil untuk makan dan minum menggunakan tangan kanan.

Pada suatu ketika pernah Rasulullah berkata kepada seorang wanita ketika makan dengan menggunakan tangan kirinya, “Janganlah engkau makan dengan menggunakan tangan kirimu, sungguh Allah telah menjadikan untukmu tangan kananmu.” Atau beliau mengatakan, “Sungguh Allah telah membebaskan untukmu tangan kananmu.” (HR Ahmad dalam Musnad (16756), dishahihkan al-Albani dalam Jilbab Mar’ah al-Muslimah)

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanannya. Dan apabila minum maka minumlah dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR Muslim 2020, Timidzi 1800, Abu Dawud 3776)

Dan terdapat keterangan bahwa barangsiapa yang menyerupai atau meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Dari dalil-dalil yang ada Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan haram apabila makan dan minum dengan mempergunakan tangan kiri. (Zaadul Ma’ad II/405 dengan tahqiq al-Arnauth cet 1)

Penggunaan tangan kiri adalah sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan dan janganlah cebok di kamar mandi dengan tangan kanan dan janganlah meniup/bernafas di dalam bejana.” (HR Muslim no 612)

Segala macam aktivitas seperti di atas adalah kekhususan pekerjaan yang dimiliki oleh tangan kiri. Sedangkan tangan kanan dikhususkan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan yang bersih atau suci.

Inilah aktivitas yang sesuai dengan aplikasi akhlak yang mulia dan kebaikan.

Berikut ini manfaat makan menggunakan tangan menurut islam:


1. Kita telah mengikuti Rasulullah sebagai ushwatun hasanah bagi kita. Dan jika kita mematuhi petunjuknya. Ini pasti memiliki nilai yang baik disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Kita telah menyelisihi syaithan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Memang demikianlah seharusnya cara hidup kita yaitu menyelisihi musuh.

3. Jika sesuatu diajarkan oleh Rasulullah pastilah disitu ada manfaat dan hikmah yang besar, yang mungkin kita belum atau tidak mengetahuinya.

Hukum Makan Dengan Tangan Kiri Menurut Islam

Banyak sekalo hadis yang menunjukkan larangan makan dengan tangan kiri,

1. Ada perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau masih kecil pernah makan dengan kedua tangannya – kanan-kiri. Kemudian diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu.” (HR. Bukhari 5376 & Muslim 2022)

2. Meniru cara makannya setan

Menyerupai setan hukumnya dilarang. Karena setan itu musuh, bukan kawan. Sehingga jangan diikuti. Dan meniru kebiasaan setan termasuk mengikuti langkah setan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Apabila kalian makan, maka hendaknya makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim 2020, Abu Daud 3778 dan yang lainnya).

As-Shan’ani menjelaskan hadis Umar bin Abi Salamah,

وفي الحديث دليل على وجوب الأكل باليمين للأمر به أيضا ويزيده تأكيدا أنه صلى الله عليه وسلم أخبر بأن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله وفعل الشيطان يحرم على الإنسان

Dalam hadis di atas terdapat dalil wajibnya makan dengan tangan kanan, karena ada perintah untuk melakukannya. Hal ini diperkuat lagi, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri. Sementara perbuatan setan, haram untuk dilakukan manusia. (Subulus Salam, 3/159)

3. Didoakan keburukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Salamah bin al-Akwa’ bercerita, Ada seseorang laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda,

كُلْ بِيَمِينِكَ

Makanlah dengan tangan kananmu!

Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’

قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

Beliau bersabda, ‘Benar kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa diangkat sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim 2021)

Ada 2 peringatan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas,


[1] Perintah untuk makan dengan tangan kanan
[2] Doa buruk karena dia tidak segara melaksanakan perintah dengan alasan tidak bisa.

As-Shan’ani mengatakan,

ولا يدعو صلى الله عليه وسلم إلا على من ترك الواجب وأما كون الدعاء لتكبره فهو محتمل أيضا ولا ينافي أن الدعاء عليه للأمرين معا

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mendoakan keburukan kecuali untuk orang yang meninggalkan kewajiban. Jika doa itu karena alasan orang itu bersikap sombong, memang ada kemungkinan demikian. Dan tidak jauh jika kita pahami bahwa doa itu karena kedua alasan tersebut. (Subulus Salam, 3/159).

Jadi, mulai sekarang, biasakanlah makan dengan tangan kanan, dan tinggalkan makan dengan tangan kiri…


Allahu a’lam