Kisah Terjadinya Perang Khaibar lengkap

Artikel kali ini membahas tentang Kisah Terjadinya Perang Khaibar lengkap, Khaibar adalah daerah yang ditempati oleh kaum Yahudi setelah diusir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah tatkala mereka melanggar perjanian damai.

Perang Khaibar
Perang Khaibar

Di sana mereka menyusun makar untuk melampiaskan dendamnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Islam, dan kaum muslimin.

Sebab Sebab Terjadinya Perang Khaibar

Awalnya, orang-orang yahudi Khaibar tidak memperlihatkan permusuhan terhadap kaum Muslimin, sampai pemuka Bani Nadhir bergabung dengan mereka setelah terusir dari Madinah.

Setelah itu, babak baru hubungan antara mereka dengan kaum Muslimin dimulai. Diantara pemuka Bani Nadhir yang menonjol yang bergabung dengan yahudi di Khaibar adalah Sallâm bin Abi al-Huqaiq, Kinânah bin Abi al-Huqaiq dan Huyai bin Akhtâb.

Mereka bergabung di Khaibar dengan membawa kebencian terhadap kaum Muslimim. Oleh karena itu di saat ada kesempatan untuk menyerang kaum Muslimin, mereka tidak menyia-nyiakannya.

Lebih dari itu, mereka bukan hanya menunggu kesempatan bahkan mereka aktif memprovokasi kaum Quraisy untuk menyerang kaum Muslimin dan suku-suku sekitar Mekah.

Perang Ahzab atau Perang Khandaq merupakan buah dari provokasi mereka. Dalam kondisi genting, saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan sekutu kala itu, lagi-lagi mereka berhasil membujuk Bani Quraizhah untuk mengingkari perjanjian damai dengan Rasûlullâh.

Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sangsi berat ke Bani Quraizhah setelah pasukan sekutu memutuskan kembali.

Perdamaian Hudaibiyyah, perjanjian gencatan senjata antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy yang terjadi setelah perang Quraizhah, menjadi kesempatan bagi kaum Muslimin untuk membereskan bibit (dendam bani Khaibar) yang bisa mengganggu stabilitas kaum Muslimin di masa yang akan datang.

Allâh Azza wa Jalla telah menjanjikan harta rampasan yang banyak, jika kaum Muslimin menyerang dan bisa mengalahkan kaum yahudi Khaibar[1]

Sejarah Terjadinya Perang Khaibar

Para Ulama sejarah berpendapat tentang kapan peperangan ini berkecamuk.

  • Ibnu Ishaq[1] menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 Hijriyah.
  • al-Wâqidi[3] menyatakan pada bulan Safar atau Rabi’ul Awwal pada tahun ke-7 Hijriyah sekembalinya kaum Muslimin dari perjanjian Hudaibiyyah.
  • Ibnu Sa’ad[4] berpendapat bahwa peperangan ini berkecamuk pada bulan Jumadil ‘Ula tahun ke-7.
  • Imam az-Zuhri dan Imam Mâlik mengatakan bahwa itu terjadi pada bulan Muharram pada tahun ke-6 Hijriyah[5] .

Jika diperhatikan, perbedaan Ibnu Ishâq dan al-Wâqidi selisihnya tidak jauh, hanya dua bulan. , demikian juga perbedaan mereka berdua dengan Imam az-Zuhri dan Mâlik, yang disebabkan perbedaan mereka dalam menentukan permulaan tahun hijriyah. Ibnu Hajar[6] rahimahullah telah merajihkan perkataan Ibnu Ishaq atas perkataan al-Wâqidi.

Pasukan kaum Muslimin berjalan menuju Khaibar dengan semangat keimanan membaja meski mereka tahu kekokohan benteng bani Khaibar, ketangguhan pasukan mereka serta kelengkapan peralatan perang mereka.

Kaum Muslimin terus bertakbir, bertahlil dengan suara keras, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan mereka dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعاً قَرِيْباً وَهُوَ مَعَكُمْ

Sesungguhnya kalian berdo’a kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan sesungguhnya Dia selalu bersama kalian Saat berangkat, kaum Muslimin menempuh jalan yang terletak antara Khaibar dan Ghatfan untuk mencegah bani Ghatafan agar tidak membantu kaum yahudi Khaibar karena saat itu mereka masih memusuhi kaum Muslimin.

Jalannya Peperangan

Kaum Muslimin sudah memasuki dan berada di wilayah Khaibar sebelum terbit fajar. Setelah menunaikan shalat Shubuh di daerah itu, penyerangan dilakukan sebelum matahari terbit.

Kejadian di pagi buta itu tentu sangat mengejutkan penduduk Khaibar yang baru memulai aktifitas mereka.

Mereka berlarian seraya berkata, “Muhammad dan prajuritnya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :

اللهُ أَكْبَرُ، خَرَبَتْ خَيْبَرُ، إِنَّا إِذّا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذِرِيْنَ

Allâh Akbar, Khaibar akan runtuh. Sungguh jika kami turun di medan untuk melawan suatu kaum maka buruklah pagi hari orang-orang yang kami peringati[7]

Orang-orang Yahudi berlarian dan berlindung di balik benteng-benteng mereka, kemudian kaum Muslimin mengepung mereka.

Bani Ghatfan berusaha menolong bani Khaibar, sekutu mereka. Namun setiap kali mereka bergerak, mereka khawatir kaum Muslimin berbalik arah menyerang mereka sehingga harta dan keluarga mereka terancam.

Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk membantu[8] . Sementara itu, kaum Muslimin mulai berhasil menaklukkan benteng-benteng Yahudi Khaibar.

Benteng pertama yang jatuh ke tangan kaum Muslimin adalah benteng Nâ’im dan as-Sha’b di daerah Nathat kemudian benteng Abi Nizar di daerah as-Syiq. Kedua daerah ini bagian sebelah timur laut Khaibar.

Kemudian benteng al-Qamûsh yang sangat kokoh di daerah al-Kutaibah. Benteng ini dihuni oleh putra Abul Huqaiq. Setelah itu, kaum Muslimin mampu menguasai dua benteng lagi di al-Wathih dan Sulâlim.

Penaklukan Benteng NA’IM

Kemenangan demi kemenangan yang diraih kaum Muslimin dalam perang Khaibar tidak didapatkan dengan mudah. Kaum Muslimin mendapatkan perlawanan sengit ketika berusaha menaklukan benteng-benteng itu.

Misalnya, saat menaklukkan benteng Na’im seorang sahabat Nabi yang bernama Mahmud bin Maslamah al-Anshâri gugur sebagai syahid.

Penaklukkan benteng ini membutuhkan waktu sepuluh hari.[9] Saat pengepungan kaum Muslimin dipimpin oleh Abu Bakar As-Shiddiq, namun saat itu Allâh belum memberikan kemenangan.

Ketika kaum Muslimin mulai terasa lelah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi semangat dengan memberitahukan bahwa besok Allâh Azza wa Jalla akan menyerahkan bendera kepada oang yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan dia akan mendatangkan kemenangan.

Keesokan harinya, usai melaksanakan shalat Shubuh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panji perang kepada Ali Radhiyallahu anhu dan Allâh Azza wa Jalla memberikan kemenangan melalui beliau Radhiyallahu anhu

Sebelumnya, Rasûlullâh telah mewasiatkan kepada Ali Radhiyallahu nhu agar mengajak orang-orang Yahudi untuk memeluk Islam terlebih dahulu.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Ali Radhiyallahu anhu :

وَاللهِ لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَم وَعْنَدَمَا سَأَلَهُ عَلِيّ : يَا رَسُول اللهِ ، عَلَى مَاذَا أقاتِلُ النَّاسَ ؟ قَالَ : قَاتِلْهُمْ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُوَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ مُنِعُوْا مِنْكَ دِمَائَهَمُ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

Demi Allâh, sungguh Allâh memberi hidayah kepada seseorang dengan perantaramu itu lebih bagimu daripada unta merah.” Ketika Ali bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh atas dasar apa aku memerangi memerangi mereka?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perangilah mereka hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh dan Muhammad adalah utusan Allâh, dan jika mereka telah melakukan hal itu maka terlaranglah bagimu darah-darah dan harta-harta mereka kecuali dengan cara yang haq dan perhitungannya di sisi Allâh.[10]

Pada saat pengepungan, seorang pemuka sekaligus ksatria kaum Yahudi tampil dan menantang duel. Orang ini yang menyebabkan wafatnya ‘Amir bin al-akwa’ Radhiyallahu anhu. Setelah itu, Ali Radhiyallahu anhu tampil meladeninya dan berhasil membunuhnya.

Kematian orang ini rupanya berdampak buruk pada mental kaum Yahudi yang selanjutnya menjadi sebab kekalahan mereka dan akhirnya benteng Nâ’im jatuh ke tangan kaum Muslimin.

Penaklukkan Benteng AS-SHA’B DAN QAL’AH ZUBAIR

Setelah berhasil menaklukkan benteng Nâ’im, kaum Muslimin bergerak menuju benteng ash-Sha’b. Benteng dihuni oleh 500 personil pasukan perang. Untuk menaklukkan benteng ini, kaum Muslimin memerlukan waktu tiga hari.

Kemudian setelah itu, kaum Muslimin mengarahkan serangan mereka ke benteng Qal’ah az-Zubeir. Benteng ini menjadi tempat pelarian kaum Yahudi yang melarikan diri dari benteng Nâ’im dan ash-Sha’b dan benteng-benteng lain yang sudah ditaklukan oleh kaum Muslimin.

Kaum Muslimin mengepung benteng tersebut dan memutus saluran air yang memasok kebutuhan mereka. Kondisi ini memaksa mereka untuk turun ke medan dan berperang.

Dalam waktu tiga hari, benteng ini pun berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin. Dengan takluknya benteng ini, maka berakhirlah kekuasan Yahudi di daerah Natthah yang selalu berada dibaris terdepan dalam memusuhi kaum Muslimin.

Penaklukkan Benteng UBAY

Setelah berhasil menumpas kekuatan kaum Yahudi yang senantiasa mengganggu kaum Muslimin di daerah Natthah, kaum Muslimin melanjutkan misi mereka dengan mengarahkan penyerangan ke daerah asy-Syiq.

Benteng Ubay di daerah ini menjadi sasaran pertama. Tembok benteng dan para penghuninya tidak mampu menahan gempuran kaum Muslimin.

Akhirnya benteng berhasil dikuasai dan sebagian penghuninya melarikan diri ke benteng Nazâr. Mengetahui hal ini, kaum Muslimin bergerak cepat menyerang benteng Nazar.

Tidak beberapa lama, benteng ini pun berhasil dikuasai kaum Muslimin. Akhirnya penduduk Yahudi yang tersisa melarikan diri ke benteng terakhir dan terkuat yaitu benteng al-Qamûs yang sangat kokoh dan benteng al-Wathîh dan benteng as-Sulâlim.

Di tempat ini mereka menghimpun kekuatan mereka. Kaum Muslimin memusatkan kekuatan untuk mengepung mereka. Pengepungan berlangsung selama 14 hari dan akhirnya meminta damai.

Demikianlah penaklukan kota Khaibar melalui pertempuran sengit berdasarkan penelitian dari kronologi kejadian.

Dalam riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud dijelaskan bahwasannya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Khaibar melalui pertempuran sengit.

Sebuah pertempuran yang menelan korban 93 dari pihak musuh dan 20 Muslim[11] atau15 Muslim.[12]

Kisah Zainab binti al-Harits Meracuni Rasulullah SAW

Kaum Yahudi tidak pernah dan tidak akan berhenti dari makar buruk terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Islam karena tabiat mereka,

Tatkala mereka kalah dari Perang Khaibar dan beberapa kali upaya untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam gagal, maka mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan siasat baru.

Seorang wanita Yahudi berperan besar dalam makar buruk ini, yaitu memberi hadiah berupa menyuguhkan hidangan daging kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyisipkan racun yang banyak padanya.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan, daging tersebut mengabari beliau bahwa ia beracun. Maka beliau memuntahkannya.

Ini merupakan mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih mulia daripada mukjizat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang memahami bahasa semut sebab ia makhluk hidup yang bernyawa memiiki mulut untuk berbicara, sedangkan sepotong daging tersebut sebagai makhluk yang mati bahkan telah matang dipanggang dengan api.

Adapun Bisri bin Baru radhiallahu ‘anhu, yang ikut makan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal dunia karena racun tersebut.

Sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh wanita ini sebagai qishosh.

Adapun hadits pokok yang menjadi obyek pembahasan ini adalah sebagai berikut :

Hadits pertama :

وَقَالَ يُوْنُسُ عَنِ الزُّهْرِي قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ إِنْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ

“Yunus berkata : Diriwayatkan dari Az-Zuhri, Urwah berkata : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.”[HR Bukhari]

Hadits kedua :

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنِى أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ يَحْيَى الأَشْقَرِ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْمَرْوَرُّوذِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا تَقُوْلُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى مَرَضِهِ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ يَا عَائِشَةُ إِنِّى أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِى أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِى مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ ‎أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ فَقَالَ وَقَالَ يُونُسُ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Asyqar, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa Al-Marwarrudzi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Anbasah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata : Urwah mengatakan : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.” Dikeluarkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya, ia mengatakan : Yunus berkata…[HR Baihaqi]‎

Beberapa hadits pendukung yang menceritakan kronologi diracunnya Nabi antara lain sebagai berikut :

Hadits pertama :

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ هِلالٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الْيَهُودِ أَهْدَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَسْمُومَةً فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَقَالَ مَا حَمَلَكِ عَلَى مَا صَنَعْتِ قَالَتْ أَحْبَبْتُ أَوْ أَرَدْتُ إِنْ كُنْتَ نَبِيًّا فَإِنَّ اللَّهَ سَيُطْلِعُكَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ نَبِيًّا أُرِيحُ النَّاسَ مِنْكَ. قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا احْتَجَمَ قَالَ فَسَافَرَ مَرَّةً فَلَمَّا أَحْرَمَ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَاحْتَجَمَ

“Telah bercerita kepada kami Syuraih, telah bercerita kepada kami Abbad, dari Hilal, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita Yahudi menghadiahkan daging seekor kambing yang telah dibubuhi racun. Lantas, beliau mengutus seseorang agar menghadapkan wanita itu, beliau bertanya, “Apa alasanmu melakukan hal ini?” Ia menjawab, “Aku suka –atau aku ingin–, jika engkau benar seorang nabi, pasti Allah akan memberitahukan racun itu kepadamu. Namun jika engkau bukan seorang nabi, maka manusia tak akan lagi terganggu olehmu.” Ibnu Abbas menuturkan, “Apabila Rasulullah n merasakan sesuatu dari racun itu, beliau melakukan bekam. Suatu kali beliau sedang bepergian, ketika melakukan ihram beliau merasakan pengaruh racun tersebut, lantas beliau berbekam.”[HR Ahmad]‎

Hadits kedua :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ يَهُوْدِيَّةً أَتَتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُوْمَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيْءُ بِهَا فَقِيْلَ أَلاَ نَقْتُلُهَا؟ قَالَ : لاَ. فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahab, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Hisyam bin Zaid, dari Anas bin Malik a, bahwa seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi n dengan membawa daging kambing beracun. Beliau telah memakan sebagiannya. Lantas wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah n dan beliau menanyainya tentang alasan tindakannya tersebut. Dikatakan, “Tidakkah kita membunuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak perlu.” Anas berkata, “Aku senantiasa mengetahui bekas racun tersebut di pangkal langit-langit mulut Rasulullah n.”[Muttafaq ‘alaih]‎

Hadits ketiga :

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا رَبَاحٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أُمِّ مُبَشِّرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيْهِ فَقُلْتُ : بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا تَتَّهِمُ بِنَفْسِكَ فَإِنِّي لاَ أَتَّهِمُ بِابْنِي إِلاَّ الطَّعَامَ الَّذِي أَكَلَهُ مَعَكَ بِخَيْبَرَ وَكَانَ ابْنُهَا بِشْرُ بِنُ الْبَرَّاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ مَاتَ قَبْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَأَنَا لاَ أَتَّهِمُ غَيْرَهَا هَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِي

“Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ja’far, telah mennceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Rabah : Diriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’b bin Malik, dari ayahnya, dari Ummu Mubasysyir, ia berkata, “Aku pernah menjenguk Rasulullah n saat beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mencurigai sesuatu yang menyebabkan dirimu sakit? Sesungguhnya aku tiada mencurigai penyebab putraku meninggal, selain makanan yang ia santap bersamamu di Khaibar.’ Putranya, Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur telah meninggal sebelum Nabi n. Maka, Rasulullah n menjawab, ‘Aku tiada mencurigai selain ulah wanita Yahudi itu. Dan, inilah waktunya urat nadiku terputus’.” [muttafaq ‘alaih]

Kisah Perang Khandaq Atau Perang Parit Lengkap

Artikel kali ini akan membahas tentang Kisah Perang Khandaq, Pertempuran ini dinamai Pertempuran Khandaq (Arab الخندق) karena parit yang digali oleh umat Islam dalam persiapan untuk pertempuran. Kalimat Khandaq kata adalah bentuk bahasa Arab dari bahasa Persia “kandak” (yang berarti “Itu yang telah digali”).

Terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi, pengepungan Madinah ini dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadhir (al-ahzaab).

Pengepungan Medinah dimulai pada 31 Maret, 627 dan berakhir setelah 27 hari

Perang Khandaq

Penyebab Terjadinya Perang Khandaq

Sebenarnya, apakah yang melatar belakangi dari pertempuran ini, Sebab tentunya tak ada sebab jika tak ada akibat. Maka berikut akan diuraikan mengenai 2 penyebab perang khandaq berserta kronologi jalannya pertempuran. Simak selengkapnya.

1). Pengusiran Kaum Bani Nadhir

Penyebab utama perang Khandaq sendiri adalah adanya pengusiran  terhadap orang-orang Yahudi. Setelah diusir mereka kemudian ditempatkan di Khaibar, sebuah wilayah di luar Kota Madinah.

Tentunya terdapat penyebab tersendiri mengapa sampai-sampai kaum Yahudi ini diusir. Berdasarkan sejarah, pengusiran terjadi karena disebabkan oleh adanya penghiatan dari kaum Bani Nadhir.

Penghiatatan tersebut kemudian membuat Nabi Muhammad SAW kemudian memutuskan untuk mengeluarkan kaum Bani Nadhir dari wilayahnya.

Kelompok Bani Nadhir kemudian berangkat ke Khaibar dan memprovokasi kaum Yahudi untuk berperang dengan Nabi saw dan ini merupakan sebab asli dari terjadinya perang Khandaq.

Provokasi ini cukup berhasil, sebab kaum Yahudi menyanggupi ajakan perang melawan umat Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah di Madinah.

Kaum Yahudi Dan Umat Muslim telah memiliki sejarah yang panjang mengenai permusuhan antara keduanya.

Terlebib lagi kaum Yahudi memiliki ambisi untuk bisa kembali menguasai wilayah Madinah yang kini ditinggali oleh mayoritas kaum Muslimin dan dipimpin oleh Nabi Muhammah SAW.

2). Kerjasama Kaum Bani Nadhir,  Kaum Yahudi dan Quraisy

Setelah itu, kaum Yahudi dari bani Nadzir dan bani Wail seperti Huyai bin Akhthab Nadzari, Salam bin Abi al-Huqaiq Nahzari, Kananah bin Rabi’ bin Abi al-Huqaiq Nadhari, Haudzah bin Qais Waili dan Abu Ammar Wail.

Mereka berangkat ke kota Mekkah dalam rangka mengajak Abu Sufyan dan kaum Quraisy untuk berperang dengan Nabi Muhammad saw.

Abu Sufyan menerima usulan mereka untuk bersekutu dan bekerja sama dalam memusuhi dan memerangi Rasulullah saw, dimana kaum Yahudi dan kaum Quraisy pun bersatu.

Kemudian, orang-orang Yahudi tersebut berangkat ke kabilah Gathafan yang dipimpin oleh Uyainah bin Hishn Fazari dan dengan menjanjikan satu tahun kurma Khaibar, agar mereka mau ikut bersama memerangi Nabi saw. 

Kemudian mereka pergi ke bani Sulaim bin Manshur dan meminta kerja samanya untuk ikut dalam peperangan ini.

Pasukan ini kemudian tergabung kedalam pasukan Musyrikin dari seluruh kabilah (Ahzab) dalam peperangan ini mencapai 10.000 pasukan

Pertempuran juga disebut sebagai Pertempuran Konfederasi (bahasa Arab غزوة الاحزاب). Al-Qur’an menggunakan istilah sekutu (Arab الاحزاب) dalam surah Al-Ahzab [Quran 33:9-32] untuk menunjukkan konfederasi Arab pagan dan Arab Yahudi terhadap Islam.

Pengepungan adalah “pertempuran kecerdasan”, di mana para ahlik taktik Muslim mengatasi lawan-lawan mereka, sementara jatuh korban sangatlah sedikit.

Upaya konfederasi untuk mengalahkan kaum Muslim gagal, dan kekuatan Islam menjadi berpengaruh di wilayah tersebut. Akibatnya, tentara Muslim mengepung sekitar Banu Qurayza, yang mengarah ke penyerahan tanpa syarat mereka.

Kekalahan itu menyebabkan Mekah kehilangan perdagangan mereka dan sebagian besar adalah kehormatan harga diri mereka.

Kisah Perang Khandaq Menggali Parit

Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan, maka dibuatlah parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadhir.

Strategi Perang Khandaq

Strategi pembuatan parit di sela sela daerah yang tidak terlindungi oleh pegunungan sebagai tempat perlindungan adalah strategi dari sahabat Rasulullah S.A.W bernama Salman al-Farisi yang berasal dari Persia, sehingga perang ini disebut dengan pertempuran parit/khandaq.

Sejatinya strategi ini berasal dari Persia, yang dilakukan apabila mereka terkepung atau takut dengan keberadaan pasukan berkuda.

Lalu digalilah parit di bagian utara Madinah selama sembilan/sepuluh hari. Pasukan gabungan datang dengan kekuatan 10.000 pasukan yang siap berperang.

Pasukan gabungan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang.

Pada Pertempuran Khandaq, terjadi pengkhianatan dari kaum Yahudi Bani Qurayzhah atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan kota Madinah, tetapi bani Quraizhah mengkhianati perjanjian itu.

Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh Nua’im bin Mas’ud al-Asyja’i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan dengan keahliannya memecah belah pasukan gabungan.

Lalu Allah S.W.T mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk mereka, dan memadamkan api mereka.

Hingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah. Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka

Awal tahun 627, orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir bertemu dengan Quraisy Mekah Arab. Huyayy bin Akhtab, bersama dengan para pemimpin lainnya dari Khaybar, melakukan perjalanan untuk sumpah setia dengan Safwan di Mekah.

Sebagian besar tentara Konfederasi dikumpulkan oleh pagan Quraish Mekah, yang dipimpin oleh Abu Sufyan, yang menerjunkan 4.000 prajurit, 300 penunggang kuda, dan 1.000-1.500 orang pada unta.

Bani Nadhir mulai meriahkan para perantau dari Najd. Mereka meminta Bani Ghatafan dengan membayar setengah dari hasil panen mereka. Rombongan kedua terbesar ini, menambahkan kekuatan sekitar 2.000 300 laki-laki berkuda yang dipimpin oleh Unaina bin Hasan Fazari. 

Bani Asad juga setuju untuk bergabung dengan mereka yang dipimpin oleh Thulaihah al-Asadi. Dari Bani Sulaim, Nadhir dijamin 700 pria, meskipun akan jauh lebih besar memiliki beberapa pemimpinnya tidak bersikap simpatik terhadap Islam.

Para Bani Amir, yang memiliki perjanjian dengan Muhammad, menolak untuk bergabung.

Suku-suku lain termasuk Bani Murrah dengan 400 orang dipimpin oleh Hars bin Auf Murri dari Bani Shuja dengan 700 laki-laki dipimpin oleh Sufyan bin Abd Syams.

Secara total, kekuatan tentara Konfederasi, meskipun tidak disepakati oleh ulama, diperkirakan sekitar 10.000 laki-laki dengan enam ratus kuda. Pada akhir Maret 627 tentara yang dipimpin oleh Abu Sufyan berbaris menuju Madinah

Hikmah Perang Khandaq

Saat penggalian parit berlangsung, yang juga dilakukan oleh Rasulullah, tersingkaplah sebuah bongkahan batu besar. Rasulullah berkata, “Biarkan aku yang pecahkan”.

Saat itulah terlihat pula perut Rasulullah yang diganjal oleh batu sebagai penahan lapar.

Kaum muslimin yang selama ini merasa menderita kemudian merasa iba melihat Rasulullah yang justru lebih lapar dibandingkan mereka, hingga batu diganjalkan ke perutnya.

Ketika Rasulullah bergerak menuju parit, beliau melewati kaum Muhajirin dan Anshar yang sedang kelelahan menggali parit pula.

Menyaksikan itu Rasulullah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang kekal adalah kampung akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin

Rasulullah datang membawa martil kemudian mengucapkan, “Bismillah

Pukulan pertama, beliau katakan “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci Syam. Demi Allah, saat ini aku benar-benar melihat istana-istana yang (penuh dengan gemerlapan)

Pukulan kedua, beliau katakan “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku negeri Persia. Demi Allah, aku benar-benar melihat istana kerajaannya yang penuh dengan gemerlapan sekarang ini.

Pukulan ketiga, “Allahu Akbar, aku benar-benar diberi kunci-kunci kerajaan Yaman. Demi Allah, aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini” (diambil dari sirah Mubarakfuri)

Maka terpecahlah bongkahan batu tersebut dengan sempurna. Dengan kekuatan ikhtiar dan ketawakkalan kaum muslimin, dalam kondisi terjepit untuk terus khusnudzon dengan takdir Allah, maka Allah berikan banyak pertolongan.

Di antaranya adalah masuk islamnya Nu’aim bin Mas’ud seorang lelaki dari kaum musyrikin kemudian ia menawarkan diri untuk memecah belah kaum musyrikin dan dihembuskannya angin taufan besar yang menerbangkan perkemahan kaum musyrikin. Kaum muslimin akhirnya menang.

Kita bisa menganalisis, justru dalam kondisi pedih di perang Khandaq terdapat banyak energi yang muncul :

1). Energi kesabaran kaum muslimin

Ketawakkalan mereka terhadap janji Allah yang membuat mereka memiliki kesabaran yang banyak. Tidak suudzon kepada Allah, terus berikhtiar, terus berusaha. Meskipun mereka belum tau, ‘Dari mana pertolongan Allah itu akan datang?’.

2). Energi kecerdikan Salman Al-Farisi

Perut lapar nyatanya tidak membuat seorang Salman menjadi tumpul dalam berpikir. Kelaparan yang diikhlaskan karena Allah justru akan merubahnya menjadi energi kecerdikan.

Bagaimana bisa parit digunakan sebagai cara untuk menang? sedangkan kaum muslimin sendiri belum pernah mencoba membuatnya sebelumnya.
Pengetahuan adalah milik kaum Muslimin yang hilang. Di mana saja dapatinya maka mereka lebih berhak mengambilnya daripada orang lain.”

Hal ini tercermin dari pengambilan strategi perang ala Persia yang Majusi itu. Umat Mukmin-lah yang paling berhak menggunakan segala ilmu dan teknologi dalam rangka menjalankan kekhalifahannya di muka bumi.

Inilah yang menjadi spitrit (ruh) kaum Mukminin pada masa kejayaannya. Ini pula yang harunya menjadi spirit kita saat ini untuk mengembalikan ‘izzah (kemuliaan) dan kejayaaan ummat.

3). Energi teladan dan kasih sayang Rasullah

Saat Salman melontarkan ide, Rasulullah menerimanya. Ia bukan saja menerimanya, namun juga turut menjadi pelaksana.

Dalam sirah Buthi diceritakan bahwa tubuh Rasulullah tertutup tanah karena turut menggali parit.

Ditambah lagi, bagaimana seorang Rasul yang paling lapar namun paling tidak mengeluh. Hanya batu di perutnyalah yang bicara, bahwa pemimpin itu ada untuk memberikan teladan.

Kasih sayang Rasulullah kepada ummatnya. Ketika salah seorang sahabat menjanjikan makanan yang tidak banyak untuk Rasulullah saw. karena melihat kondisi Rasulullah yang tidak makan selama tiga hari dan terus-menerus menggali parit.

Tetapi Rasulullah mengajak semua orang ke rumah sahabat ini. Kemudian atas mukjizat makanan tersebut ternyata cukup bagi semuanya.

4). Energi optimisme Rasulullah

Tiga perkataan Rasulullah yang diucapkan saat memecahkan batu, Syam Persia Yaman akan takluk oleh Islam, padahal saat itu mereka berada dalam kondisi tersudut, tidak punya apa-apa, dan menderita. Namun optimisme itulah yang membangkitkan kembali semangat kaum muslimin.

5). Energi doa

Pertolongan Allah yang muncul juga merupakan akibat dari doa-doa yang dipanjatkan kaum muslimin dalam kondisi menderita. Pada akhirnya Allah berikan hadiah kemenangan dengan cara membantu mereka lewat caraNya sendiri.

Kunci kemenangan perang Ahzab sama dengan peperangan lainnya adalah pertolongan Allah. Secara kuantitas dan kualitas pasukan dan senjatanya tidak mungkin 3000 muslim dapat mengalahkan 10.000 pasukan sekutu.

Tetapi karena keimanan mereka, Allah menurunkan pertolongan berupa badai padang pasir yang dahsyat yang menebarkan ketakutan luar biasa pada pasukan sekutu hingga mereka lari tercerai berai tanpa hasil.

6). Senantiasa bersiap – siagalah

Manusia senantiasa berbolak balik hatinya, kita harus selalu bersiap siaga dan waspada terhadap musuh yang kadang datang dengan tiba.

Pengkhianatan bani quraizah ( yahudi ) dan kaum munafikin madinah dalam perang ahzab membuktikan bahwa kaum yang awalnya membela Rosululloh malah berkhianat di dalam bentteng madinah.

Akhirnya, dalam bab berikutnya, para penghianat itu di hukum mati ( berjumlah 600 – 700 )

Dari cerita Khandaq kita bisa belajar, siapapun yang bisa mengolah kepedihan menjadi energi, Allah akan berikan kemenangan dan kebahagiaan di kemudian hari, lewat pertolonganNya dengan caraNya yang tidak diduga-duga

Sejarah Dan Hikmah Nuzulul Qur’an Ketika Al-Quran Turun ke Bumi

Artikel kali ini kita akan membahas tentang Sejarah Dan Hikmah Nuzulul Qur’an, Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Dan Hikmah Nuzulul Qur'an

Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1-5 yang bila diterjemahkan menjadi :

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Saat wahyu ini diturunkan Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.

Sebagian menyakini peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, dan lainnya adalah pada bulan Ramadhan pada tanggal 17 (Al-Bara’ bin Azib), 21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) dan 24 (Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’)

Nuzulul Qur’an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur’an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan.

Hikmah Nuzulul Qur’an

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur’an dalam arti turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut:

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat

Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur’an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah.

Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur’an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur’an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

2. Tantangan dan Mukjizat

Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin.

Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun. Selain itu, Al-Qur’an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an.

Walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur’an yang tak tertandingi oleh siapapun.

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya

Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya.

Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.

4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya

Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan “Jailul Qur’anil farid” (generasi qur’ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur’an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya.

Interaksi mereka dengan Al-Qur’an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya, langsung dikerjakan segera. 

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur’an adalah karena Al-Qur’an turun secara bertahap.

Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur ini.

Misalnya khamr, Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan.

Pertama, Al-Qur’an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur’an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91).

5. Menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah SWT

Ketika Al-Qur’an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur’an, diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin. Maraji: : مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan معالم في الطريق karya Sayyid Quthb]

Keutamaan Malam Nuzulul Quran

Diantara beberapa momentum berharga yang terjadi pada bulan Ramadhan yaitu peristiwa Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar.

Keduanya berkaitan erat dengan sejarah turunnya Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah ayat 185 telah jelas diterangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan nash yang menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan, sekaligus menjelaskan surah Ad-Dukhan ayat 1-3 yaitu bahwa Al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkah yakni pada malam lailatul qadar, sebagaimana firman Allah Swt:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. Al-Qadr : 1)

Malam Nuzulul Quran yang jatuh pada malam ini, 17 Ramadhan 1440H/ 21 Mei 2019 merupakan malam yang penuh dengan kemulian.

Selain sebagai malam diturunkannya Al-Quran ke langit dunia, keutamaan lain dari malam lailatul qadar yaitu:

1. Lebih baik daripada 1.000 bulan.

Allah Swt berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. Al-Qadr : 3)

Dalam tafsir al-Thabari disebutkan bahwa Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘lebih baik dari seribu bulan’ adalah amal, puasa, dan salat malam yang dilakukannya pada malam ini lebih baik dari amalan yang dilakukan selama 1.000 bulan.

2. Diampuninya dosa seseorang yang menghidupkan malam tersebut.

Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari)

3. Malam yang penuh berkah.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. (QS. Al-Dukhan : 3)

Para ulama tafsir, salah satunya al-Qurtubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ pada ayat tersebut adalah malam lailatul qadar yaitu malam dimana diturunkannya Al-Quran.

4. Pada malam ini para malaikat turun dan juga Malaikat Jibril a.s.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. (QS. Al-Qadr : 4)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut menandakan banyaknya berkah yang turun pada malam itu, karena malaikat turun bersamaan dengan turunnya berkah.

5. Malam dicatatnya takdir tahunan.

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Al-Dukhan : 4)

Yang dimaksud dengan ‘urusan’ di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.

Al-Quran sebagai kitab mulia, pedoman hidup umat muslim menjadikan setiap hal yang bersinggungan dengannya menjadi mulia. Adapun mengapa Nabi Muhammad Saw menjadi Nabi yang paling mulia di antara para nabi-nabi lain adalah karena pada beliaulah Al-Quran diturunkan.

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang mulia diantara bulan lain karena pada bulan inilah Al-Quran diturunkan, begitupun lailatul qadar yang menjadi malam paling mulia diantara malam-malam lain karena pada malam ini pulalah Al-Quran diturunkan sebagaimana yang termaktub dalam surah al-Qadr ayat 1.

Momentum yang berharga dan mulia ini harusnya bisa digunakan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperoleh keberkahan serta mempelajari sejarah agar bisa meneladani pribadi Rasulullah Saw yang akhlaknya merupakan manifestasi dari Al-Quran itu sendiri.

Serta sebagai momen untuk meneladani apapun yang ada dalam Al-Quran, mempelajari, membaca serta mengamalkannya karena bagaimanapun Al-Quran merupakan pedoman hidup yang harus dipegang teguh.

Allah Swt berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat”. (QS. Al-An’am : 155)

Doa Malam Nuzulul Quran

Dalam memperingati malam Nuzulul Quran bisa dilakukan dengan membaca Al Quran, memperbanyak dzikir, mengerjakan sholat sunnah malam melengkapi sholat wajib, dan berdoa kepada Allah.

Adapun doa yang bisa diamalkan ketika malam Nuzulul Quran diantaranya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tukhibbul Afwa Fa’fu ‘Anni

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha pemaaf dan engkau menyukai ampunan maka ampunilah aku.

Bacaan doa diatas merupakan doa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ditanya oleh istrinya yang bernama Siti Aisyah, perihal doa yang paling baik saat mendapatkan malam Lailatul Qadar.

Riwayat Syekh Abdul Qadir Al jailani Secara Lengkap

Artikel kali ini akan membahas tentang Riwayat Syekh Abdul Qadir Al jailani. Syekh Abdul Qadir Jaelani atau Abd al-Qadir al-Gilani (bahasa Kurdi: Evdilqadire Geylani, bahasa Persia: عبد القادر گیلانی,bahasa Urdu: عبد القادر آملی گیلانی Abdolqāder Gilāni) (juga dilafalkan Abdulqadir Gaylani, Abdelkader, Abdul Qadir, Abdul Khadir – Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany) (470–561 H) (1077–1166 M) adalah orang Kurdi atau orang Persia ulama sufi yang sangat dihormati oleh ulama Sunni.

Biografi Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Syekh Abdul Qadir dianggap wali dan diadakan di penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India. Di antara pengikut di Pakistan dan India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam.

Ia lahir pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.

Nasab Syekh Abdul Qodir Al Jailani

Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al A’zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli.

Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H.

Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama.

Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha r.a ,melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi.

Syekh Sayyid Abdurrahman Jami rah.a memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A’zham r.a sebagi berikut : “Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A’zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu“. Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut :

1). Nasab Syekh Abdul Qodir Al Jailani Dari Ayahnya(Hasani):

Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdul Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam

2). Nasab Syekh Abdul Qodir Al Jailani Dari ibunya(Husaini):

Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum’i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul ‘Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala’uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal ‘Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam

Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi.

Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’.

Syekh Abdul Qadir Al-jailani

Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syekh Abdul Qadir Al Jailani.

Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat beliau.

Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya.

Maka, diadakan perluasan. Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syekh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.

Syekh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syekh Abdul Qadir, beliau menjawab, “kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.”

Syekh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syekh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. 1)

Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah.

Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya.

Diantara perkataan Imam Ibnu Rajab ialah, “Syekh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syekh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) 2) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya). Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk beregang dengannya, sehingga aku meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah mansyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas.3) semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi4) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.“5)

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syekh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki pendapat memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah .”

Syekh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.”

Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada diatas ‘arsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain ). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah diatas arsy.”6)

Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syekh Abdul Qadir Al Jailani, “Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali (kekasih) yang Tidak berada di atas aqidah (Imam) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, “Tidak pernah ada dan tidak akan ada.“7)

Perkataan Syekh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86.

Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf. 000 Sam’ani berkata, “Syekh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.

Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syekh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syekh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib.

Kemudian mengakhiri perkataan, “Intinya Syekh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau“( Siyar XX/451 ).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syekh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi “.

Syekh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, “Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syekh Abdul Qadir Al Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah.8) Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Salafi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.”9)

Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam bishshawwab.

Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan.

Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah Shalallahhu ‘alaihi wassalam, maka hal ini merupakan kekeliruan.

Karena Rasulullah Shalallahhu ‘alaihi wassalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syekh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah (perantara) dalam do’a mereka. 

Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. 

Menjadikan orang yang meningal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar.

Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah,

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya.
Disamping (menyembah) Allah.
( QS. Al-Jin : 18 ) Jadi sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk memperlakukan para ‘ulama dengan sebaik mungkin, namun tetap dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari’ah.

Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga tidak tersesat dalam kehidupan yang penuh dengan fitnah ini. Wallahu a’lam bishshawab.

Karya Karya Syekh Abdul Qadir Al jailani

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah.”

Karya karyanya :

• Tafsir Al Jilani
• al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
• Futuhul Ghaib.
• Al-Fath ar-Rabbani
• Jala’ al-Khawathir
• Sirr al-Asrar
• Asror Al Asror
• Malfuzhat
• Khamsata “Asyara Maktuban
• Ar Rasael
• Ad Diwaan
• Sholawat wal Aurod
• Yawaqitul Hikam
• Jalaa al khotir
• Amrul muhkam
• Usul as Sabaa
• Mukhtasar ulumuddin

Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.

Kata-Kata Mutiara Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani

Dibawah ini adalah kata-kata Syekh Abdul Qodir Al Jaelani.

Kelebihan Dan Kekurangan

“Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing². Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Orang Beriman

Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Lisannya

Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu yang kurang baik, maka ia segera untuk memperbaiki ungkapan yang di ucapkan itu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Berusahalah

Berusahalah untuk menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Dunia Dan Akhirat

Jika dunia dan akhirat datang melayanimu, dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu Tuhanmu dan menetaplah di dalamnya. Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti buah pikiran.“ Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kelebihan Dan Kekurangan

Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing-masing.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”
Mewujudkan

Setiap orang di antara kamu, tidak di wujudkan melainkan telah di tentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Imbuhan

Janganlah engkau menuntut imbuhan atas amal perbuatanmu, baik keduniaan maupun keakhiratan.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Nikmat

Janganlah kamu mencari nikamat, tapi carilah Zat yang memberimu nikmat.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Tetangga

Carilah tetangga sebelum mendapatkan rumah. Dialah Zat yang mewujudkan segala sesuatu, Zat yang mengaturkannya dan yang wujud sesudah segala sesuatu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Saudaraku

Saudaraku, janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang apabila diberi nasehat, tidak mau menerima, dan jika mendengar nasehat tidak mau mengamalkannya.“Syekh Abdul Kodir Al-Jaelani”

Mengamalkan

Kamu tidak mengamalkan apa yang telah kamu ketahui. Kamu mengamalkan apa yang tidak kamu ketahui.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Mengetahui

Kamu tidak mau berusaha mengetahui apa yang telah kamu ketahui, sehingga tetap bodoh.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Larangan

Kamu menyuruh manusia untuk berusaha mengetahui apa yang mereka tidak mengetahuinya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Fasik

Kepada mereka yang fasik, takutlah kepada orang yang beriman.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kemaksiatan

Jangan kamu bergaul dengan dia, selagi kamu masih bergelimpangan dengan kemaksiatan yang keji. Sebab orang-orang mukmin, dengan cahaya Illahi, mengetahui apa yang ada dalam dirimu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Syirik Dan Munafik

Mereka mengetahui syirik dan munafikmu dengan melihat tindakan dan gejolak yang ada di balik dirimu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Cela Dan Aib

Mereka melihat cela dan aibmu. Barang siapa tidak mengetahui tempat keberuntungan, lalu dia jelas tidak akan beruntung.“Syekh Abdul Al-Jaelani”

Sabda Nabi Muhammad Saw

Takutlah kamu dengan firasat seorang mukmin. Sebab ia memandang sesuatu dengan cahaya Illahi.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kekasih ALLAH SWT

Para kekasih ALLAH SWT terhadap makhluk adalah buta, tuli, dan bisu. “Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Hati

Jika hati mereka telah dekat dengan ALLAH AZZA WAJALLA, maka mereka tidak mendengar dan melihat selainnya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kedudukan

Mereka berada pada kedudukan antara Al-Jalal dan Al-Jamal, tidak berpaling ke kanan ataupun ke kiri.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Bagi Mereka

Bagi mereka tidak ada belakang, yang ada hanyalah depan. Manusia, Jin, Malaikat, dan Makhluk yang lainnya melayani mereka.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Karunia (Fadhal)

Demikian pula hukum dan ilmu. Karunia (fadhal) merupakan santapan dan penyegarnya. Mereka makan dari fadhal-Nya dan minum susu-Nya. Mereka minum, mereka merasa bising terhadap suara-suara manusia, tetapi mereka tinggal bersama-dengannya (makhluk). Mereka menyuruh makhluk melaksanakan perintah Allah SWT, mencegah makhluk dari mengerjakan larangan-larangan-Nya, sebagai penerus ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Merekalah pewaris yang sebenarnya.“Syekh Abdul Al-Qodir”

Bertindak

Para kekasih ALLAH SWT itu tidak pernah bertindak dan bersikap demi diri dan nafsu sendiri.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Cinta Dan Benci

Mereka mencintai sesuatu karena ALLAH AZZA WAJALLA dan membenci sesuatu karenanya. Semuanya demi dia, tidak ada bagian yang di berikan kepada nya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Zuhud

Terimalah nasib dengan zuhud, tidak dengan kebencian. Orang yang makan sambil menangis tidak sama dengan orang yang makan sambil ketawa, dalam menerima segala ketentuan-Nya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Senantiasalah

Senantiasalah hatimu dengan ALLAH AZZA WAJALLA. Berserah dirilah atas keburukan nasib.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Obat

Kamu memakan sesuatu yang di berikan oleh tabib dan sesuai dengan obatnya, adalah lebih baik daripada makan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengetahui asal-usulnya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Hatimu

Selama hatimu keras terhadap amanat, maka hilanglah rahmat dirimu, dan hilanglah pula segala yang ada padamu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Amanat

Hukum-hukum syariat itu amanat yang di bebankan kepadamu, sedangkan kamu meninggalkan dan menghianatinya. Tidak berguna lagi jika amanat lenyap dari hatimu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Karunia ALLAH SWT

Andai kata tanpa karunia ALLAH AZZA WAJALLA, mana mungkin orang berakal mentadbir negara, bergaul dengan para penghuninya, yang telah dilanda sifat riak, nifak, zalim bergelimang syubhat dan haram.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kekufuran

Benar telah tersebar kekufuran, Ya Allah. Kami mohon pertolongan kepada-Mu dari kefasikan kelancangan. Telah banyak kelemahan melanda para zindik.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Rahasia

Sungguh telah ku bongkar rahasia rumah kamu. Tetapi aku mempunyai dasar yang memerlukan pembina. Aku mempunyai anak-anak yang memerlukan pendidikan. SEANDAINYA KU UNGKAP SEBAGIAN RAHASIAKU, tentu hal ini merupakan pangkal perselisihan antara aku dengan kamu.Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Nasehatilah

Nasehitlah dirimu terlebih dahulu, kemudian baru orang lain.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Nafsumu

Kamu harus memelihara nafsumu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kesalahan

Jangan kamu mengira kesalahan orang lain sebab, dirimu masih memerlukan perbaikan.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Membersihkan

Adakah kamu tau bagaimana cara membersihkan orang lain? Bagaimana menonton orang lain? Padahal yang dapat memimpin manusia adalah orang² yang awas.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Menyelamatkan

Hanya perenang ulung yang dapat menyelamatkan orang lain yang tenggelam dalam lautan.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Mengarahkan

Hanya orang yang mengetahui Allah yang dapat mengarahkan umat manusia ke arah jalan-Nya. Tidaklah ucapan yang diperlukan untuk berbakti kepada Allah Swt melainkan perbuatan nyata.“Syekh Abdul Al-Jaelani”

Nafsu

Nafsu seseorang selalu menentang dan membangkang. Maka barangsiapa ingin menjadikannya baik, hendaklah ia bermujahadah, berjuang melawannya, sehingga terselamatkan dari kejahatannya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kebaikan

Hawa nafsu semuanya adalah keburukan dalam keburukan, namun apabila telah terlatih dan menjadi tenang, berubahlah ia menjadi kebaikan di dalam kebaikan.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Syirik

Syirik itu terdapat pada lahir maupun batin. Syirik lahir adalah menyembah berhala sedangkan syirik batin adalah berpegang kepada makhluk dan memandang mereka dapat memberi kemudaratan dan manfa’at.”Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Seseorang

Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil (mencuri) maka lakukanlah. Jika kamu mampu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Akhiratmu

Jadikanlah akhiratmu sebagai modalmu dan jadikan duniamu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang masih tersisa maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Umat Islam

Mudah-mudahan umat Islam diselamatkan dari bencana alam selama dia masih mau mendo’akan saudaranya yang seiman.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Ikhlas

Yang paling beruntung adalah mereka yang mampu ikhlas mulai dari awal hingga akhirnya.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Berpikirlah

Berpikirlah, bahwasanya sesuatu yang kamu cintai di dunia ini tidak akan kekal selamanya. Tidak abadi dan pasti fana. Jika kamu telah menyadari hal ini, maka kamu tidak akan melupakan-Nya walaupun sekejap.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Sesungguhnya

Sesungguhnya bencana terhadapmu bukan untuk menghancurkanmu melainkan sesungguhnya akan mengujimu, mengesahkan kesempurnaan imanmu dan menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu.“Syekh Abdul Qodur Al-Jaelani”

Waktunya

Orang itu di katakan dekat dengan ALLAH selama dia meluangkan waktunya untuk berzikir setiap hari.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Menyelamatkan

Selama hidup di dunia ini, yang terbaik adalah menyelamatkan hati dari buruk sangka.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Orang Kafir

Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Kemaksiatan

Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Ucapkanlah

Jika kamu bertemu orang tua, maka ucapkanlah dalam hati. Dia telah beribadah kepada ALLAH SWT. Jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dari

Berilmu

Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.“Syekh Abdul Qodir AL-Jaelani”

Seseorang

Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Anak Kecil

Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Ladang

Dunia adalah ladang dan akhirat adalah tempat tinggal.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Muridku

Wahai muridku jangan jadikan apa yang kamu makan atau minum yang kamu pakai, yang kamu nikahi dan berkumpul dengan nya sebagai tujuan dan cita-cita. Semua adalah dorongan hasrat dan hawa nafsu.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Tujuan & Cita-Cita

Tujuan dan cita-cita hati adalah Allah al-Haq. Maka jadikanlah Allah dan segala yang ada pada-Nya sebagai tujuan dan cita-citamu. Dunia ada penggantinya yaitu akhirat. Makhluk ada penggantinya yaitu al-Khaliq.“Syekh Abdul Qodir AL-Jaelani”

Segala Sesuatu

Segala sesuatu yang kamu tinggalkan didunia, akan engkau dapati pengganti yang lebih baik didalam kehidupan yang akan datang. Anggaplah bahwa masih tersisa umur sampai hari ini, bersiaplah untuk kehidupan akhirat, karena kesempatan itu akan hilang dengan datangnya malaikat Izrail pencabut nyawa.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Dunia Adalah Ladang

Dunia adalah ladang dan tempat singgah bagi manusia, dan akhirat adalah tempat diam. Jika semangat dari Allah telah datang, maka keduanya (dunia dan akhirat) akan tertutupi. Sehingga dia akan berdiri diantara keduanya, tidak kepada dunia dan tidak kepada akhirat.“Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”

Semoga memotovasi anda dan bermanfaat

Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah Lengkap, Bukti Kecerdasan Politik Nabi

Artikel kali ini akan membahas tentang Perjanjian Hudaibiyah, Bukti Kecerdasan Politik Nabi, Berkembangnya Islam sampai ke seluruh penjuru dunia, dan tetap bertahan sampai zaman sekarang ini, salah satu faktornya adalah kecerdasan sang pembawa risalah tersebut, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Beliau adalah tokoh dengan karakter yang paling hebat. Bahkan Michael J Hart yang non muslim pun menempatkan beliau di urutan teratas dalam daftar 100 orang terhebat dalam buku karyanya.

Salah satu bukti kehebatan Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, atau Shulhul Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Kaum Muslimin Madinah, dalam hal ini dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, dengan kaum musyrikin Mekah.

Ini terjadi pada tahun ke-6 setelah beliau hijrah dari Mekah ke Madinah. Perjanjian ini terjadi di Lembah Hudaibiyah, berada di pinggiran Kota Mekah.

Pada saat itu rombongan Kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW hendak melakukan ibadah Haji. Namun mereka dihalang- halangi masuk ke Mekah oleh Suku Quraisy, penduduk Mekah.

Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah

Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Hudaibiyah

Pada tahun 628 M/ 6 H. Ketika ibadah haji telah disyari’atkan, nabi beserta sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji bukan untuk berperang.

Karena itu mereka tidak membawa senjata. Rasulullah menyeru orang-orang Arab para penduduk desa yang berada di sekitar Madinah untuk keluar bersamanya, sehingga mereka menuju Makkah dalam jumlah yang banyak.

Sebab beliau khawatir jika orang-orang Quraisy akan menghalangi dan memerangi mereka sebelum tiba di Baitullah.

Tetapi banyak juga dari penduduk desa ini yang merespon panggilan ini dengan lambat bahkan menolaknya. Lalu beliau keluar bersama kaum Muhajirin, Anshor dan kabilah-kabilah Arab lainnya.[3]

Rasulullah juga membawa sejumlah hewan qurban, beliau membawa sekitar 700 unta, agar memberikan rasa aman bagi mereka bahwa umroh ini bertujuan untuk berziarah dan mengagungkan  baitullah.

Walaupun begitu kaum Quraisy menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu itu, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang.

Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Makkah, karena Makkah adalah tempat suci.

Akhirnya kaum Muslim menyetujui inisiatif Nabi Muhammad, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini dituliskan pada surah Al-Fath ayat 4 :

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana

Sesampainya rombongan di Dzul Hulaifah  mereka berhenti untuk mendirikan sholat dan mulai mengenakan pakaian ihram.

Rasulullah memasang kalung di sejumlah leher binatang sebagai tanda bahwa binatang itu dipersiapkan untuk korban.

Rasulullah menugaskan Basar bin Sufyan al-Khuza’i melakukan kegiatan spionase (memata-matai) terlebih dulu di tengah-tengah pihak Quraisy, untuk mencari informasi tentang keadaan, sikap dan langkah mereka terhadap rombongan Rasulullah.[4]

Setelah rombongan sampai di Rauha, Rasulullah mendapat kabar bahwa musuh siap menyerang. Lalu beliau mengirim beberapa sahabat untuk memastikan hal itu. Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Setibanya di Usfan mereka bertemu dengan Basar bin Sufyan al-Khuza’i, lalu ia melapor kepada Rasulullah bahwa orang-orang Quraisy telah mendengar kabar kedatangan beliau, kemudian mereka membawa anak istri  keluar dari Makkah sambil bertekad untuk tidak mengizinkan beliau memasuki Makkah.

Sementara itu Kholid bin Walid dan tentaranya sudah menghadang di Kira’ al-Ghamim. Rasulullah bersama sahabat di Usfan mendirikan sholat Khauf, karena suasana yang genting di sana.[5]

Rasulullah langsung mengajak para sahabat bermusyawarah. Beliau mengusulkan untuk menyerang beberapa perkampungan yang bersekutu dengan Quraisy, agar mereka minta bantuan kepada Quraisy untuk mempertahankan wilayah dari serangan kaum muslimin.

Namun Abu Bakar mengingatkan Rasulullah kalau mereka pergi dengan tujuan untuk umroh bukan untuk berperang, bila nanti ada yang menghalangi maka terpaksalah ia dibunuh. Akhirnya Nabi Muhammad pun menyetujui usul ini.

Kemudian Rasulullah dan para sahabat mencari jalan lain di perjalanan untuk menghindari kontak fisik dengan pihak musyrikin. Setelah rombongan Rasulullah berhenti di Hudaibiyyah, maka terjadilah saling kirim mengirim utusan antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin.

Tetapi Quraisy tampaknya masih keras kepala dan bersikukuh untuk tidak mengizinkan rombongan para sahabat memasuki Makkah. Mereka takut bila kaum muslimin berhasil masuk Makkah, orang-orang Arab akan mempergunjingkan kejadian ini.

Rasulullah kemudian ingin mengutus Umar bin Khattab namun diganti oleh Utsman bin Affan, karena Umar menunjukkan permusuhannya yang hebat terhadap Quraisy dan Quraisy mengetahui hal itu, di samping itu kaumnya yakni, Bani ‘Adi tak dapat melindunginya.[6]

Usman bin Affan tak lama kemudian pergi menemui para tokoh Quraisy setelah terlebih dahulu minta jaminan keamanan kepada  Abban bin Sa’ad bin al-‘Ash al-Umawi.

Lalu dengan jaminan perlindungan itu ia menyampaikan maksud dan tujuan Rosululloh kepada tokoh-tokoh Quraisy. Utsman melakukan tugasnya dengan baik, sampai-sampai para tokoh Quraisy mempersilakannya thawaf di Masjidil Haram.

Tetapi Utsman menolaknya sebelum Rosululloh mendahului thawaf dulu sebelum dia tawaf di Masjidil Haram. Perkataan ini berakibat ia ditawan oleh Quraisy.[7] Keterlambatan Utsman kembali ke barisan kaum muslimin membuat sebagian kaum muslimin berkata bahwa Utsman telah mendahului mereka thawaf di Baitullah.

Namun Rosululloh dengan tegas menyatakan bahwa Utsman tidak akan melakukannya hingga kaum muslimin thawaf bersamanya.[8]

Maka terdengarlah isu bahwa Utsman terbunuh di tangan orang-orang Quraisy. Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung mengumpulkan para sahabatnya untuk berbai’at di bawah sebuah pohon yang bernama Sammuroh.

Mereka semua berbai’at untuk membalaskan kematian Utsman sampai titik darah penghabisan.[9] Berkenaan dengan peristiwa tersebut Allah menurunkan surat al-Fath ayat 10, Allah berfirman :

Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.

Tetapi pada saat yang genting itu, tiba-tiba Utsman muncul kembali di tengah-tengah mereka, tepat setelah bai’at berlangsung.

Paska Bai’at tersebut dari pihak Quraisy mulai mengutus beberapa orang utusan untuk melakukan negosiasi dan perundingan dengan kaum muslimin. Sampai pada akhirnya datanglah Suhail bin Amru.

Terjadilah dialog yang panjang antara Suhail dan Rasulullah, akhirnya tercapailah kesepakatan atau perjanjian dari kedua belah pihak yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyyah.[10] yang isinya adalah sebagai berikut :

Keduanya telah sepakat untuk menghentikan perang selama 10 tahun, di mana dalam masa waktu tersebut orang-orang memperoleh keamanan serta sebagian mencegah diri untuk tidak melakukan penyerangan terhadap sebagian yang lain, dengan ketentuan bahwa siapa di antara orang-orang Quraisy yang datang ke pihak Muhammad tanpa memperoleh izin dari walinya, maka dia harus mengembalikanorang tersebut kepada mereka, dan siapa di antara pengikut Muhammad yang datang ke pihak Quraisy, maka Quraisy tidak berkewajiban mengembalikan orang itu kepadanya”.

Dan sesungguhnya masing-masing pihak saling menahan diri, tidak boleh ada pencurian tersembunyi atupun penghianatan dan sesungguhnya barangsiapa ingin masuk dalam satu ikatan persekutuan dan perjanjian dengan Muhammad, maka dia boleh masuk ke dalamnya, dan barangsiapa lebih suka masuk dalam ikatan persekutuan dan perjanjian dengan Quraisy, maka dia bebas masuk ke dalamnya”.

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) harus balik meninggalkan kami tahun ini, dan jangan masuk Makkah dan sesungguhnya jika tahun depan tiba, kami akan keluar memberikan keleluasaan padamu bersama pengikutmu masuk Makkah, kemudian tinggal di sana selama tiga hari, dan untuk itu engkau boleh membawa senjata pengendara (pedang dalam sarungnya); dan jangan masuk dengan senjata lain selain itu”.

Faktor Yang Mendorong Dilakukannya Perjanjian Hudaibiyah

Kesediaan orang-orang Makkah untuk berunding dan membuat perjanjian dengan kaum muslimin itu benar-benar merupakan kemenangan diplomatik yang besar bagi umat islam.

Dengan perjanjian, harapan untuk mengambil alih Ka’bah dan Makkah sudah makin terbuka untuk merebut dan menguasai Makkah agar dapat menyiarkan Islam kedaerah-daerah lain, ini merupakan target utama beliau.

Ada dua faktor dasar yang mendorong kebijaksanaan ini yaitu :

  • Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi ini, Islam bisa tersebar keluar.
  • Apabila suku nabi sendiri dapat diislamkan, Islam akan mendapat dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.[11]

Tidak diragukan lagi bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah suatu kemenangan yang nyata. Sejarah pun mencatat bahwa isi perjanjian ini adalah suatu hasil politik yang bijaksana dan pandangan yang jauh, yang besar sekali pengaruhnya terhadap masa depan Islam dan masa depan orang-orang Arab itu semua.

Ini adalah yang pertama kali pihak Quraisy mengakui Muhammad, bukan sebagai pemberontak terhadap mereka, melainkan sebagai orang yang tegak sama tinggi duduk sama rendah.

Dan sekaligus mengakui pula berdirinya dan adanya kedaulatan Islam itu. Kemudian juga suatu pengakuan bahwa Muslimin pun berhak berziarah ke Ka’bah serta melakukan ibadah haji, bahwa Islam adalah agama yang sah diakui sebagai salah satu agama di jazirah itu.

Selanjutnya gencatan senjata yang selama sepuluh tahun membuat pihak Muslimin merasa lebih aman dari jurusan selatan tidak kuatir akan mendapat serangan Quraisy, yang juga berarti membuka kesempatan bagi Negara Islam Madinah untuk berkonsentrasi menyebarkan dakwah Islam ke arah utara Jazirah Arab.

Kenyataan lain adalah setelah persetujuan perletakan senjata itu dakwah Islam tersebar luas berlipat ganda lebih cepat daripada sebelumnya.

Hampir seluruh jazirah Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan menggabungkan diri dalam Islam. Jumlah mereka yang datang ke Hudaibiyyah ketika itu sebanyak 1400 orang.

Tetapi dua tahun kemudian, tatkala Muhammad saw hendak membuka Mekah jumlah mereka yang datang sudah 10.000 orang.

Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi tersebut membuktikan ketepatan kebijakan Rasulullah saw,  Membuktikan pula bahwa ketika Rasulullah membuat Perjanjian Hudaibiyah Rasulullah saw telah meletakkan dasar yang kokoh sekali dalam kebijaksanaan politik dan penyebaran Islam.

Maka setelah terjadi negosiasi beberapa waktu, kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan perjanjian damai.

Sebelum terjadinya Perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Musyrikin Mekah bersama- sama dengan Kaum Yahudi Khaibar, dan suku- suku lain di sekitar Arab yang masih musyrik menyerang Madinah.

Ini dikenal dengan peristiwa Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Usaha penyerangan tersebut gagal total dikarenakan mereka terhalang oleh benteng yang dibuat oleh Kaum Muslimin berupa parit.

Serta berkat bantuan dari Allah SWT beruapa badai yang sangat dingin yang menerpa pasukan musyrikin tersebut.

Perang ini dipandang sebagai akhir dari usaha Kaum Musyrikin Mekah untuk memerangi Kaum Muslimin Madinah.

Isi Perjanjian Hudaibiyah

Sedangkan isi dari Perjanjian Hudaibiyah tersebut menurut riwayat, intinya adalah:

  1. Gencatan senjata antara Mekah dengan Madinah selama 10 tahun.
  2. Bagi penduduk Mekah yang menyeberang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Mekah.
  3. Bagi penduduk Madinah yang menyeberang ke Mekah tidak boleh kembali ke Madinah.
  4. Bagi penduduk selain Mekah dan Madinah, dibebaskan memilih untuk berpihak ke Mekah atau Madinah.
  5. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah.
  6. Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya dipersilahkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang). Dalam masa 3 hari itu kaum Quraisy (Mekah) akan menyingkir keluar dari Mekah.

Kerugian Perjanjian Hudaibiyah Bagi Umat Islam

Sekilas isi perjanjian tersebut sama sekali tidak menguntungkan bagi Kaum Muslimin, dan hanya menguntungkan kaum Quraisy Mekah. Ini bisa kita cermati satu persatu isinya:

  1. Gencatan senjata sudah tidak diperlukan oleh Kaum Muslimin, mengingat setelah Perang Ahzab/ Khandaq, Kaum Quraisy sudah putus asa dalam memerangi Kaum Muslimin. Dan itu dibuktikan bahwa mereka tidak berani memerangi Kaum Muslimin yang hendak datang ke Mekah.
  2. Jika penduduk Mekah tidak boleh menyeberang ke Madinah, jelas jumlah Kaum Muslimin tidak akan bertambah, sedangkan Kaum Quraisy tidak akan melemah.
  3. Jika penduduk Madinah yang pergi ke Mekah tidak diperbolehkan untuk kembali ke Madinah, tentu warga Madinah akan berkurang. Poin ini bisa disebut imbang.
  4. Kaum Muslimin yang sudah capek- capek menempuh perjalanan harus pulang tanpa tercapai tujuannya yaitu berhaji. Ini tentu sangat mengecewakan mereka. Ditambah lagi sebelumnya Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan bahwa beliau bermimpi memasuki Mekah bersama- sama Kaum Muslimin dengan aman, dan mimpi beliau pasti terjadi. Jika ternyata apa yang beliau ucapkan tidak menjadi kenyataan, tentu akan menjadi pukulan bagi mereka. Terlebih berita tersebut sudah menyebar di kalangan kaum munafiq dan Kaum Yahudi. Jika mereka tahu, tentu Nabi Muhammad SAW dan Kaum Muslimin akan menjadi bahan ejekan oleh mereka.
  5. Diperbolehkannya untuk kembali lagi, dan hanya tinggal selama 3 hari, maka waktu 3 hari ini tidak cukup untuk melaksanakan ibadah Haji. Apalagi tidak diperkenankan menghunus pedang, maka ini adalah hal yang sangat merugikan.

Pada saat itu kondisi psikis Kaum Muslimin sangat tertekan. Mereka tidak percaya bahwa pemimpin mereka yang sangat cerdas mau menerima perjanjian itu begitu saja.

Bahkan Umar bin Khattab r.a sempat memprotes secara halus tentang isi perjanjian ini.

Bahkan ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan Kaum Muslimin untuk menyembelih hewan kurban yang telah mereka siapkan sebagai tanda berakhirnya ibadah Haji, tidak ada satupun yang melaksanakannya karena rasa heran lebih menguasai pikiran mereka.

Kalaulah bukan karena usul Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad SAW, mungkin mereka akan tetap terpaku dalam keadaan seperti itu.

Namun ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai pandangan yang orang lain tidak mampu menangkapnya. Dan hal ini tidak pernah beliau beri tahukan kepada sahabat- sahabat beliau, bahkan kepada Abu Bakar r.a dan Umar r.a. Ini beliau lakukan demi menjaga rahasia strategi beliau.

Maka beliau membiarkan para sahabat dan Kaum Muslimin dalam keadaan seperti itu. Ternyata, setelah kemenangan Islam terjadi, kita bisa mengambil pelajaran bahwa paling tidak ada 2 hal penting yang beliau ambil dari Perjanjian Hudaibiyah tersebut:

Perjanjian ini ditandatangani oleh Kaum Quraisy dengan Suhail bin Amr sebagai wakilnya. Suku Quraisy adalah suku paling terhormat di daerah Arab, sehingga siapapun akan menghormati apa yang mereka tentukan.

Dengan penandatanganan perjanjian ini, maka Madinah diakui sebagai suatu daerah yang mempunyai otoritas sendiri. Jika Suku Quraisy telah mengakui, maka suku- suku lain pun pasti mengakuinya.

Dengan perjanjian ini, maka pihak Quraisy (Mekah) memberi kekuasaan kepada Madinah untuk menghukum mereka jika menyalahi perjanjian tersebut.

Ternyata sangat hebat konsekuensi dari perjanjian ini. Kaum Muslimin Madinah yang tadinya dianggap bukan apa- apa, sejak perjanjian itu dibuat bisa menghukum suku yang paling terhormat di Arab.

Perlu diketahui bahwa Islam melarang memerangi suatu kaum atau seseorang tanpa orang atau kaum tersebut melakukan kesalahan. Ini bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Al Hajj ayat 39- 40.

Maka dengan keuntungan yang didapat dari Perjanjian Hudaibiyah itu, Nabi Muhammad berusaha mengukuhkan status Madinah dengan cara mengutus berbagai utusan kepada pemimpin negara- negara tetangga, diantaranya Mesir, Persia, Romawi, Habasyah (Ethiopia), dan lain- lain.

Selain itu beliau juga menyebar pendakwah untuk menyebarkan Agama Islam.

Kemudian dengan dijaminnya Quraisy tidak akan memusuhi Kaum Muslimin, maka Kaum Muslimin bisa dengan leluasa menghukum Kaum Yahudi Khaibar yang telah mendalangi penyerangan terhadap Kaum Muslim Madinah dalam Perang Ahzab/ Khandaq.

Ini yang beliau lakukan sehingga Kaum Yahudi pun di kemudian hari tidak berani lagi mengganggu Madinah.

Dalam pada itu, Nabi Muhammad SAW tahu betul karakter orang- orang Mekah. Beliau yakin bahwa mereka akan melanggar perjanjian itu sebelum masa berlakunya selesai. Dan itu benar- benar terjadi.

Maka ketika Bani Bakr yang menyatakan berpihak kepada Quraisy dan didukung beberapa tokoh Quraisy diantaranya Ikrima bin Abu Jahal menyerang Bani Khuza’ah yang menyatakan memihak Madinah, Nabi Muhammad segera menyiapkan rencana untuk menghukum Kaum Quraisy.

Dan pada akhirnya, terjadilah penaklukan Mekah tanpa perlawanan berarti dari penduduk Mekah.

Maka tepatlah ketika Kaum Muslimin kembali dari Hudaibiyah, dalam perjalanan turun Surat Al Fath (Kemenangan)….

                                          إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. Allahu a’lam bishshawab.

Faedah Perjanjian Hudaibiyah

Adapun manfaat dari perjanjian hudaibiyah, antara lain:

  • Bebas dalam menunaikan agama Islam.
  • Tidak ada teror dari Quraisy.
  • Mengajak kerajaan-kerajaan luar seperti Ethiopia-afrika untuk masuk Islam.
  • Terhindar dari pertumpahan darah antara kaum Quraisy dengan kaum muslimin.
  • Menjadi faktor utama pembuka mekkah.
  • Sebagai dasar yang kokoh dalam politik penyebaran Islam.
  • Nabi mempunyai kesempatan yang lebih leluasa dalam mengkonsolidasikan masyarakat Islam.
  • Nabi mempunyai waktu yang leluasa untuk lebih memfokuskan perhatian pada penyebaran Islam kepada kabilah-kabilah Arab lainnya.
  • Mengajak kepada raja-raja dan kaisar-kaisar untuk memeluk Islam dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa tersebut, seperti kepada Kisra sebagai raja Persia dengan utusan Abdulloh bin Khudzafah, kepada Heraclius penguasa Romawi dengan utusan Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi, kepada Mauquqis raja Mesir dengan utusan Khatab bin Abi Balti’a, kepada Najasyi raja habsyah dengan utusan Amr bin Umayyah Add-Dhamri, kepada Al-Harits Al-Ghassani di Syam, dan raja Amman pemilik Yamamah, serta Al-Mundzir sebagai hakim Bahrain. Seluruhnya surat Nabi berjumlah 105 buah surat.

Pentingnya Menuntut Ilmu Dalam Islam Beserta Dalilnya

Artikel kali ini akan membahas tentang Pentingnya Menuntut Ilmu Dalam Islam Beserta Dalilnya. Sebagai umat muslim (orang yang beragama Islam) kita memerlukan belajar secara teratur (long live education). Belajar dalam Islam bertujuan agar kita dapat ilmu untuk hidup di dunia dan memperoleh bekal untuk di akhirat.

Hal-hal penting tentang ilmu yang harus kita pelajari nantinya akan berpengaruh dan InsyaAllah dapat menjadi pegangan kita selama hidup di dunia yaitu dengan ilmu kita dapat mencari nafkah untuk kebutuhan hidup.

Ilmu Adalah Bunga-bunga Ibadah

Menuntut Ilmu Dalam Islam
Menuntut Ilmu Dalam Islam

Kita harus memahami juga untuk apa kita hidup di dunia ini. Allah menciptakan makhluknya hanya untuk beriman dan bertakwa kepadaNya. Jadi semua hal di dunia yang telah dan akan kita lakukan, semua ditujukan hanya pada Allah.

Cara-caranya adalah dengan senantiasa melakukan perbuatan baik. Apakah perbuatan baik itu? Perbuatan baik adalah semua pikiran, perkataan dan tingkah laku yang berniat baik dan dilakukan dengan sikap-sikap terpuji untuk menciptakan kedamaian dan keindahan dalam hidup.

Perbuatan baik adalah kunci dari ibadah. Baik ibadah kepada Allah maupun ibadah kepada manusia (termasuk pada diri sendiri). Dalam hal ini ilmu adalah salah satu perbuatan baik yang memiliki dampak positif. Dampak tersebut bisa diterima bagi penerima maupun pemberi ilmu. Itulah arti penting ilmu yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Setiap hal di dunia memerlukan ilmu. Sebab kelebihan yang dimiliki manusia adalah akal. Dengan akal maka manusia dapat berpikir dan mempergunakan pikirannya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. 

Menuntut ilmu sebaiknya jangan dianggap kewajiban tetapi sebuah kebutuhan yang asasi dan sangat penting.

Menuntut ilmu dapat mengembangkan pola berpikir seseorang sehingga dapat memudahkan dalam menjalani kehidupan.

Orang yang menghargai ilmu dan mengamalkannya dengan baik maka hidupnya akan menjadi damai dan sejahtera. Tak jarang manusia menyepelekan ilmu sebab untuk menuntut ilmu memerlukan biaya dan waktu yang lama.

Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa membuka hati dan pikirannya untuk menerima ilmu. Apabila kita telah membuka hati dan pikiran kita untuk menerima bahwa ilmu itu ada dan berguna, maka dengan sendirinya diri kita akan terbiasa menuntut ilmu karena kebutuhan hidup selalu berkaitan dengan ilmu.

Menuntut ilmu tidak akan terasa sulit. Karena pada dasarnya manusia memiliki minat dan bakat. Fenomena itulah yang seharusnya dipupuk untuk mengarahkan perjalanan kita dalam menuntut ilmu.

Ilmu merupakan suatu hal yang obyektif dan fleksibel. Siapapun dan dimanapun dapat mempelajari ilmu.

Entah itu ilmu yang berkaitan dengan sosial, budaya, ilmu pasti, moral, dan masih banyak lagi ilmu yang bisa kita pelajari.

Menuntut ilmu akan menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan bila kita udah memahami makna menuntut ilmu dan telah membulatkan tekad untuk pantang menyerah dalam mengembangkan kemampuan demi memajukan hidup kita.

Segala kegiatan manusia di dunia pada hakikatnya adalah untuk menciptakan kehidupan yang indah. Bila diungkapkan dengan bahasa ungkapan maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bunga-bunga ibadah.

Ilmu merupakan penghias ibadah manusia kepada Allah, kepada sesame manusia dan kepada diri sendiri. Ketika ilmu dipelajari dengan sungguh-sungguh dan diamalkan sebaik-baiknya untuk kepentingan yang benar maka akan sangat indah manfaat yang diraih.

Namun bila ilmu dipelajari dengan setengah-setengah dan dimanfaatkan semaunya tanpa tahu tujuannya benar atau tidak, maka ilmu itu akan merusak citra keindahan. Inilah yang sangat penting kita pahami agar tidak sembarangan mempergunakan ilmu dalam kehidupan kita.

Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dipelajari dengan niatan baik dan tulus untuk diamalkan di jalan Allah SWT melalui kehidupan umat manusia sebagai perantaranya.

Cerminan Akhlak Mulia Adalah Ilmu yang Baik

Akhlak kita sebagai umat muslim dapat dicerminkan dari perilaku kita sebagai insan penuntut ilmu. Apapun yang kita perbuat selama masih dalam norma yang benar maka akan menampakkan akhlak yang baik.

Ilmu yang dimiliki seseorang dapat mencerminkan akhlaknya. Ilmu mengandung tatanan-tatanan yang sistematis dan mampu membentuk watak seseorang. Seperti apa ilmu yang dimiliki seseorang maka seperti itulah kira-kira cerminan akhlaknya.

Insan muslim yang berilmu pasti akan memperlihatkan bentuk tingkah laku dan perkataan yang dapat diterima oleh akal sehat dan mencerminkan kesopanan serta pribadi yang baik. Misalnya adalah sikap disiplin, rajin, ramah, sopan, penyayang, suka menolong, hal-hal tersebut merupakan sikap seorang yang memiliki akhlak baik dan berilmu.

Kita sebagai umat muslim harus senantiasa meningkatkan ilmu yang kita miliki dan mengembangkannya untuk masa depan. Dengan demikian kaum muslim dapat memberi contoh akhlak yang baik bagi semua umat manusia di muka bumi ini.

Berangkat dari tujuan di atas kita dapat menelusuri sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi : “lakum diinukum wa liyadiin” yang artinya “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (surat Al-Kaafirun : 6). Ayat tersebut menerangkan bahwa agama Islam tidak dapat disamakan dengan agama manapun.

Hal tersebut merupakan suatu pemahaman dasar tentang Islam yang harus kita garis bawahi. Namun untuk implementasi dalam kehidupan sehari-hari, tidak masalah bila kita sebagai kaum muslimin memeberikan contoh akhlak yang baik bagi umat manusia lain dari semua agama.

Apa yang disebut amal di dunia ini didasari dengan ketulusan niat dan beramal tidak dibatasi untuk satu agama saja. Namun tetap harus berpegangan pada aturan-aturan agama Islam sebagai hukum dasar yang mengarahkan langkah-langkah kita dalam menjalani kehidupan bersama segala jenis manusia dan agama.

Dengan segala bentuk keadaan yang dijelaskan di atas, kita dapat menyimpulkan suatu pemikiran yaitu kita harus berhati-hati dan tidak gegabah dalam mengurus masalah yang berkaitan dengang agama.

Sebab hal-hal yang berhubungan dengan agama adalah asasi dan sensitif. Hal tersebut menyangkut keutamaan hubungan manusia dengan Allah, sehingga penerjemahannya dalam kehidupan sehari-hari tidak boleh sembarangan.

Kita tidak boleh asal-asalan menggunakan hukum Islam (Al-Qur’an maupun Al-Hadits) untuk membuat dalil-dalil tanpa disertai ilmu pengetahuan tentang Islam yang matang.

Mencari ilmu adalah kebutuhan yang akan menjadi kewajiban bila sudah ditanamkan dalam hati. Hal tersebut sangat penting karena akan menjadi bekal manusia di dunia dan di akherat.

Islam dianggap sebagai agama pemersatu bangsa dan agama Islam sebagai rahmatan lil alamin. Kita sebagai umat muslim akan menjadi orang yang merugi bila tidak menuntut ilmu. Sebab Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina”.

Sabda nabi tersebut menunjukkan bahwa ilmu sangatlah berharga. Ilmu yang kita miliki baru akan berharga bila sudah diamalkan di jalan Allah. Dengan demikian kita akan mampu meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah SWT.

Adab Menuntut Ilmu dalam Pandangan Islam

Adab menuntut ilmu dalam islam yaitu dengan belajar adab terlebih dahulu sebelum ilmu, bisa diartikan bahwa seorang murid itu harus belajar adab terlebih dahulu dari gurunya, sebelum ilmunya. Dan seorang guru harus memiliki adab sebelum menyampaikan ilmunya.

seperti Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.” . Seperti Rasulullah, beliau adalah guru besar bagi seluruh umat, dan dari adabnya lah beliau bisa melahirkan banyak generasi yang berilmu istimewa pada zamannya.

Maka dari itu, antara adab dan ilmu saling berkaitan, karena semua ini akan berdampak bagi anak hasil didikan sang guru, maka seorang murid akan belajar adab dari gurunya, dan seorang guru harus memiliki adab sebelum menyampaikan ilmunya. Jika seperti ini ilmu akan menjadi berkah dan bisa merubah generasi penuntut ilmu menjadi sebaik genersi zaman Rasulullah.

Beberapa adab menuntut ilmu sesuai dengan ajaran Islam:

1). Harus Jujur dan Mengikhlaskan Niat

Menuntut ilmu yaitu harus dengan hati yang jujur dan berniat iklhlas karena Allah, Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” (HR. Bukhari).

Selama kita mempelajari ilmu dengan jujur, niat yang kuat dan berada di jalan Allah. Maka Allah akan mempermudah kita untuk mendapatkan ilmu itu, dan insyallah ilmu yang kita dapatkan bisa berkah dan bermanfaat untuk kita amalkan.

2). Harus Membersihkan Hati dari Akhlak yang Buruk

Tidak lupa kita untuk membersihkan hati kita terlebih dahulu, dari akhlak tercela kita yang pernah kita perbuat sebelumnya, dengan cara begini kita bisa mendapat kemudahan dari Allah, karena ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambanya yang bertakwa.

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu menjauhi dirinya dari hasad, riya’, ‘ujub, dan semua akhlak tercela. Ilmu tidak bisa berkah apabila, ilmu yang kita pelajari belum bisa membuat kita berubah untuk menjadi diri yang lebih baik lagi, maka dari itu kita harus membersihkan hati kita dari akhlak yang tercela.

3). Mempelajari Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat, akan bisa membuat ilmu ini bisa kita amalkan dengan benar, menjadi berkah dan bisa membuat perubahan menjadi lebih baik. Insyaallah ilmunya akan diridhoi oleh Allah dan bisa memberikan kita pahala yang berlipat ganda.

untuk mencari ilmu ada doanya sebagaimana yang Rasulullah sabdakan,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).

4). Bersungguh-sungguh Dalam Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu, diperlukan niatan untuk selalu bersungguh-sungguh. Tidak patut para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencari ilmu.

Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu tersebut.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak akan pernah kenyang: yakni (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang serakah terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi).

Maka kita harus dengan bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu, karena ilmu bukan untuk dipermainkan, karena ilmu itu karunia istimewa dari Allah.

5). Tidak Usah Malu Untuk Bertanya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An Nahl: 43). Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka belajar agama.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu bertanya, karena bila kita malu, maka pengetahuan kita akan terhenti, ilmu yang ingin kita ketahui tidak bisa kita kuasai, maka bertanyalah sesuai denganapa yang ingin kamu ketaui, tetapi jangan lupa untuk bertanya dengan menggunakan adab.

6). Tidak Boleh Merasa Sombong

Dalam menuntut ilmu, Allah melarang kita untuk merasa sombong karena ilmu yang telah kita miliki, karena ilmu pengetahuan manusia itu tidak ada apa-apanya, hanya terbatas. Sedangkan Allah lah pemilik segala ilmu di alam semesta ini.

Sebagai manusia yang taat seharusnya kita bersikap beradab untuk menuntut ilmu dengan ajaran yang Allah berikan, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

7). Harus Sabar

Merasa sabar juga harus kita miliki, karena ilmu itu berjalan dengan waktu yang membutuhkan proses, dan semua itu tergantung dengan diri kita, bila kita memiliki rasa sabar dan memohon kepada Allah, semoga dengan ilmu yang kita pelajari akan menjadi berkah dan bermanfaat.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, “Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, “Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.

8). harus Menghargai Ilmu dari Gurunya

Ilmu juga tidak bisa menjadi berkah, apabila kita menjalaninya tanpa menghargai guru yang telah memberikan kita ilmu, kita bisa menghargai ilmu dari guru kita dengan cara:

  • Mendengarkan guru ketika menyampaikan ilmunya
  • Memahami ilmu yang disampaikan
  • Menghafalkan ilmu yang telah disampaikan
    Nabi muhammad saw beliau bersabda :
    Allah akan memberikan cahaya kepada wajah orang yang telah mendengarkan perkataan, kemudian ia dapat memahaminya, menghafalkannnya, dan menyampaikannya. Banyak sekali orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya. (HR.At-Tirmidzi).

9). Harus Mengamalkan Ilmunya

Ilmu tidak akan hilang bila kita mengamalkannya, ilmu akan terus bertambah apabila kita sering membicarakanya baik itu bisa seperti Dakwah kepada sesama untuk saling berbagi ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang di jalan Allah.

Ilmu juga harus kita catat tidak hanya di kepala saja, tetapi juga bisa dalam bentuk tulisan. Agar ilmu yang telah disampaikannya tidak akan hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya.

Kelebihan Menuntut Ilmu Dalam Islam

Antara kelebihan yang dijelaskan di dalam hadith Nabi SAW bagi orang-orang yang menuntut ilmu ini, kami ingin datangkan sebuah hadith yang panjang di dalam Sahih Muslim yang menceritakan di dalam sebahagian matannya akan kelebihan orang yang menuntut ilmu.

Daripada Abu Hurairah RA, bahawa Nabi SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Maksudnya: “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan untuk ke Syurga. Tidaklah satu kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya sesama mereka melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), diliputi ke atas mereka rahmat dan dinaungi oleh malaikat serta Allah SWT akan menyebut mereka pada malaikat yang berada di sisi-Nya”. [Riwayat Muslim (4867)]

Makna Hadist:

Di dalam hadith ini mengandungi pelbagai jenis ilmu, kaedah-kaedah dan adab-adab. Antaranya ialah ia menceritakan akan kelebihan keluar menuntut ilmu dan sentiasa sibuk dengan ilmu syar’ie dengan syarat ia niatnya adalah kerana Allah SWT.

Walaupun syarat ini merupakan syarat untuk setiap ibadat tetapi telah menjadi adat para ulama’ mengikat masalah ini dengannya kerana sebahagian manusia mengambil mudah dan lalai terhadapnya terutama golongan permulaan dan seumpama dengan mereka.

Selain itu juga, maksud sabda Nabi SAW “Tidaklah satu kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya sesama mereka melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), diliputi ke atas mereka rahmat” adalah dikatakan yang dimaksudkan dengan sakinah di sini adalah rahmat.

Ini yang dipilih oleh al-Qadhi ‘Iyadh tetapi ia adalah dhaif disebabkan rahmat telah di’athafkan dengan sakinah. Dikatakan juga ia (yang dimaksudkan dengan sakinah) adalah thoma’ninah dan kemuliaan.

Ini adalah lebih baik dan ia juga mempunyai dalil atau petunjuk akan kelebihan berkumpul untuk membaca al-Qur’an di dalam masjid. [Lihat: al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, 17/21]